BANGKALAN, RadarMadura.id – Lora Mukhtar Makin Yahya memutuskan untuk hijrah dari rumahnya di Desa Lomaer, Kecamatan Blega, Bangkalan, pada 2009. Kota Gerbang Salam menjadi pilihan untuk berlabuh menuntut ilmu pengetahuan. Lora Makin memilih Pondok Pesantrean (Ponpes) Darul Lughah wa Ad-Dirasat Al Islamiyyah di bawah asuhan Kiai Muhammad Ghozali.
Kurang lebih sembilan bulan dia di ponpes yang dikenal dengan pendidikan bahasa Arabnya di Kabupaten Pamekasan tersebut. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan ke Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata.
Saat mengenyam pendidikan di Bata-Bata, Lora Makin fokus di dua lembaga. Yakni di Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) dan Majelis Musyawarah Kutubuddiyah (M2KD) atau bahtsul masail.
”Perjalanan saya dimulai dari situ. Selama mondok di Bata-Bata fokus di dua instansinya tersebut,” ungkapnya Senin (1/4).
Tidak jarang saat masih mondok di Bata-Bata dia berpartisipasi dalam berbagai lomba bahasa Arab atau baca kitab. Kurang lebih tujuh tahun dia mengenyam pendidikan di salah satu ponpes ternama di Madura itu.
Pada September 2015, dia melanjutkan pendidikan ke Al Azhar, Kairo, Mesir. Memilih negeri piramida sebagai tujuan belajar adalah keinginnya sendiri dan dorongan orang tua dan guru. ”Kuliah di Mesir kurang lebih lima tahun,” kenangnya.
Nama Lora Makin tidak asing, terutama bagi alumni Ponpes Bata-Bata. Selain berasal dari kalangan priayi, pria yang aktif sebagai anggota Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Bangkalan itu memiliki banyak karya kitab dan buku. Salah satu karya populernya adalah kitab Al Mukhtar Fi Mahalli Ma’ani Ghayati al-Ikhtisar.
Kebiasaan menulis itu dia mulai sejak masih menjadi santri aktif Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata. Al Mukhtar merupakan kitab pertama yang dia tulis sekitar 2014. Kitab terjemahan kata per kata kitab Fathu Al Qorib itu terinspirasi ketika dirinya mengikuti lomba di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pemekasan.
Saat itu ada seorang guru dari salah satu SMA negeri di Pamekasan yang juga ikut mendelegasikan siswanya untuk mengikuti lomba. Dia kemudian menghampiri guru itu dan menanyakan perihal kemampuan siswa dalam membaca kitab kuning. Siswa itu membaca kitab gundul itu dengan cara mencari makna dan harkat.
”Dari situ, saya berpikir ternyata untuk membaca kitab itu memang harus tahu makna dan harkat. Motivasi kedua saat itu di Bata-Bata ada metode baca kitab,” paparnya.
Ada delapan buku dan kitab yang dia tulis selama kuliah di Al-Azhar. Selain Al Mukhtar, dia juga menulis kitab Nihayatu Al Mukhtar yang lebih komplet dan lengkap dengan pemahaman di setiap pembahasan.
Baca Juga: Berpuasa, Berperikemanusiaan
Selain menulis, Lora Makin juga memiliki aktivitas lain seperti menggagas program Manhaji, yang memuat beberapa program seperti tahfiz, baca kitab, Alfiyah Ibu Malik, bahasa Arab, dan bahasa Inggris untuk yang bersifat kepesantrenan atau pendidikan. Sementara program yang bersifat sosial, dia juga membentuk Majelis Taklim Hidayatul Musytarsidin untuk masyarakat. (za/luq)
Editor : Ina Herdiyana