SAMPANG, RadarMadura.id – Salah satu peninggalan Syaikhona Muhammad Kholil berada di Desa Montor, Kecamatan Banyuates, Sampang. Yaitu di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Maarif.
Peninggalan bersejarah ulama tersohor asal Bangkalan tersebut berupa rumah dan Masjid Jamik. Konon, bangunan yang sampai saat ini masih terawat tersebut dibangun oleh Syaikhona Muhammad Kholil.
Keterangan itu disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam Mambaul Maarif Rukkiyati Bukhori.
Perempuan yang biasa disapa Neng Rukkiyati itu menyampaikan, dua tempat peninggalan Syaikhona Muhammad Kholil tersebut saat ini menjadi sarana untuk menebarkan kebaikan. Harapannya, masyarakat sekitar terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dulu, sesepuh Kiai Mas’ud dan istrinya, Sitti Satta, merupakan sentri Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan. Jadi, keduanya dibangunkan tempat tinggal (dhalem) sekitar 1334.
”Tempat ini didirikan Syaikhona Muhammad Kholil untuk Kiai Mas’ud di sekitar desa yang mayoritas masyarakatnya masih sering melakukan kegiatan seperti judi, sabung ayam, dan sebagainya,” ujarnya.
Dakwah yang dilakukan Kiai Mas’ud untuk memerangi kemungkaran tidak mudah. Namun, berkat masjid dan rumah yang dibangun Syaikhona Muhammad Kholil, dakwah yang dilakukan bisa diterima masyarakat.
Penduduk sekitar juga turut memakmurkan keberadaan masjid yang dibangun Mbah Kholil.
”Makanya, kami sebagai generasi ketiga penerus pesantren tetap berupaya melanjutkan warisan waliyullah untuk memakmurkan masjid dalam berdakwah kepada masyarakat,” ucapnya.
Saat ini kondisi masyarakat di wilayahnya sudah berbeda dengan masa Kiai Mas’ud. Sebab, semuanya sudah meninggalkan berbagai aktivitas negatif.
Juga kembali ke jalan yang benar seperti salat berjemaah dan mengikuti pengajian di masjid.
”Dengan sabar dan telaten, awalnya banyak yang tidak mau salat, kini mau (salat) dan meninggalkan perbuatan mudarat,” tuturnya.
Perempuan 55 tahun itu mendirikan madrasah diniyah untuk memaksimalkan dakwah. Pihaknya yakin, satu-satunya cara untuk memakmurkan masjid agar tetap terjaga dan banyak jemaahnya harus dimulai dari pendidikan dan pengetahuan masyarakat.
”Ilmu keagamaan paling banyak ditanamkan melalui madrasah diniyah,” terangnya.
Lembaga yang dibina juga dilengkapi dengan pendidikan formal. Mulai dari RA, MI, MTs, hingga MA.
Selain itu, dakwah yang dilaksanakan dilakukan melalui pendekatan sosial dalam kegiatan-kegiatan jam’iyah. Salah satunya melalui forum kajian Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).
”Biasanya, saya sampaikan tentang fikih dan kitab-kitab peninggalan Syaikhona Muhammad Kholil kepada masyarakat,” jelasnya.
Neng Rukkiyati menyampaikan, pengembangan pendidikan diterapkan dengan menanamkan nilai-nilai Syaikhona Muhammad Kholil. Tujuannya, agar peserta didik dapat mencintai dan meneladani kekasih Sang Pencipta.
”Mengikuti lalampanah (Madura, Red) dengan sungguh-sungguh sama halnya kita meneladani apa yang diajarkan waliyullah di zamannya,” ucapnya. (bai/jup)
Editor : Ina Herdiyana