Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ponpes Najmul Ulum Al-Mursyidiyah: Tuntut Santri Bisa Baca Kitab Kuning dan Rintis Program Jurnalis Pesantren

Berta SL Danafia • Sabtu, 23 Maret 2024 | 18:30 WIB
ANTUSIAS: Sejumlah santri Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah mengoperasikan komputer saat belajar desain grafis. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)
ANTUSIAS: Sejumlah santri Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah mengoperasikan komputer saat belajar desain grafis. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)

RadarMadura.id – Lembaga pendidikan Najmul Ulum Al-Mursyidiyah memiliki program prioritas. Di antaranya, santri dituntut bisa membaca kitab kuning.

Kitab kuning menjadi program unggulan karena dinilai menjadi referensi utama dalam menyikapi segala persoalan hidup sekaligus menjadi pedoman hidup umat Islam.

”Sekurang-kurangnya meliputi dua hal. Pertama, isi kandungan kitab kuning sudah tidak diragukan lagi,” jelas Pengasuh Ponpes KH. Abdul Latif Adzim El-Atiq.

Sebab, sumber rujukannya berasal dari Al-Qur’an dan hadis,” tambahnya.

Selain itu, kitab kuning penting sebagai penopang dalam memahami ilmu keagamaan secara mendalam.

Kitab tersebut mampu merumuskan penjelasan atau hukum baru yang dinamis dan sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi tidak ahistoris terhadap sumber pokok ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan hadis.

Sebab, kitab kuning mencerminkan sebuah pemikiran yang lahir dan berkembang sepanjang sejarah peradaban Islam.

”Maka, revolusi yang dilakukan oleh pondok kami adalah mengembangkan program tersebut hingga terbentuklah beberapa otonom penyempurna, seperti halnya maktuba, prakom dan FM2K,” ungkapnya.

Santri juga dibekali dengan program multimedia. Sebab, tuntutan perkembangan zaman dan teknologi mengharuskan pesantren semakin maju.

Memiliki skill dalam multimedia juga sangat penting karena menjadi salah satu jalan dakwah masa kini yang dapat dinikmati oleh semua orang.

Pemanfaatannya sebagai sarana dakwah dan inovasi dakwah yang targetnya bisa dicapai dengan cepat dan tepat.

MUSYAWARAH: Puluhan santri mengikuti bahsul masail tahunan di Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)
MUSYAWARAH: Puluhan santri mengikuti bahsul masail tahunan di Pondok Pesantren Najmul Ulum Al-Mursyidiyah. (PONPES NAJMUL ULUM AL-MURSYIDIYAH)

Buya Latif mengakui, media sosial sangat penting dan mempunyai manfaat besar dalam pengembangan dakwah bagi masyayikh, santri, dan asatidz.

”Selain itu, melalui media ini, dapat memotivasi santri dalam berislam dan belajar sekaligus untuk penyebaran informasi mengenai kegiatan di pondok,” ujarnya.

Santri juga dibekali dengan ilmu jurnalistik. Ilmu jurnalistik digalakkan karena selama ini komunitas jurnalisme pesantren sangat minim.

Hal itu menyebabkan tidak tersalurkannya bakat-bakat santri dalam dunia tulis-menulis.

Karena itu, santri dituntut aktif menerbitkan buletin sebagai salah satu media dakwah melalui tulisan. Selain itu, menjadi sarana untuk mengapresiasi gagasan santri.

”Kami sadar bahwa tradisi lisan pesantren yang lebih kuat ketimbang tradisi tulisan merupakan pengaruh kuat hadirnya kader-kader penceramah daripada kader-kader jurnalis,” ucapnya.

Kesadaran itulah yang membuat pondok pesantren merintis program tersebut sebagai langkah konkret untuk melahirkan jurnalis pesantren.

Melalui program jurnalistik, santri diharapkan tak hanya pandai berceramah, tetapi juga berdakwah lewat tulisan.

”Penyebaran media informasi mengenai aktivitas pesantren ke ranah publik yang lebih luas juga sangat penting,” ucapnya.

”Artinya, lewat media cetak, pesantren dapat lebih mengoptimalkan penyampaian visi-misinya kepada masyarakat luas sehingga image masyarakat tentang pesantren pun akan selalu baik dan positif,” pungkasnya. (sin/luq)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#program #kitab kuning