SAMPANG, RadarMadura.id – Setiap mubalig memiliki metode berbeda-beda dalam menyiarkan dakwah.
Salah satunya melalui forum pengajian dan media sosial. Metode dakwah tersebut diterapkan Kiai Abd. Wahid Siradj.
Dewan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kebun Wangi Nagasari Bluuran, Karang Penang, itu menyatakan, forum pengajian dilaksanakan tiga kali dalam sebulan.
Dua kali dilaksanakan di rumah warga dan satu kali di ponpesnya.
”Kegiatan koloman (pengajian) juga dibarengi arisan dan diiringi penyampaian ceramah (dakwah) kepada masyarakat,” ujarnya.
Tema yang dipilih disesuaikan dengan audiens yang hadir. Jika mayoritas pemuda, materi yang disampaikan berkaitan dengan pemanfaatan media sosial yang bijak dalam bermedia sosial.
Sebab, di era globaliasi seperti sekarang, arus informasi sangat cepat.
Jadi, setiap informasi yang diterima harus difilter sehingga tidak menjadi korban hoaks. ”Agar masyarakat lebih hati-hati memanfaatkannya,” ujarnya.
Suami Robiatul Adawiyah itu menuturkan, informasi tidak jelas di media sosial bisa menjadi racun yang bisa berdampak luas.
Karena itu, pemanfaatan media sosial harus digunakan dengan bijak.
”Masyarakat membutuhkan pencerahan (cara penggunaan media sosial yang baik) untuk dapat mencegahnya melalui penyadaran,” tutur alumnus Universitas Sunan Giri itu.
Dia menuturkan, teknologi bagaikan pisau bermata dua. Jika memanfaatkan teknologi untuk kegiatan positif, dapat memberikan kebaikan.
Begitu pula sebaliknya, apabila teknologi tidak dimanaaftkan dengan bijak, dapat menggerus keimanan seseorang.
”Kami selalu mengajak kepada orang tua untuk pandai mengontrol penggunaan medsos anaknya,” ujarnya.
Pria yang akrab dipanggil Lora Wahed itu mengaku sering mengunggah syiar-syiar Islam di medsosnya, mulai Tiktok hingga Instagram.
Cara itu dilakukan untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan.
Sebab, saat ini kehidupan masyarakat nyaris tidak bisa dilepaskan dari dunia maya. ”Agar mudah diakses masyarakat,” terangnya.
Di era seperti sekarang, pengajian dan ceramah tidak bisa hanya dilakukan melalui tatap muka. Sebab, sudah masanya berdakwah juga dilakukan melalui medsos.
Dunia sekarang sudah dalam genggaman (gadget). Karena itu, penting bagi kita juga berperan untuk berdakwah melalui medsos,” paparnya.
Dakwah yang dilaksanakan Ra Wahid tidak hanya di tanah air, tetapi juga di luar negari seperti Kuala Lumpur, Johor, Malaysia, dan Arab Saudi.
Tema dakwah yang biasanya disampaikan di negeri jiran Malaysia yaitu tentang akhlak dan toleransi beragama di negara lain.
”Sehingga masyarakat tetap memperkuat tali silaturahmi antar sesama umat beragama,” terangnya.
Sementara dakwah di Tanah Suci Makkah biasanya dilaksanakan saat menjadi pendamping jamaah umrah.
Yakni, saat memberikan penjelasan pada jamaah tentang peristiwa penting dan tempat bersejarah yang ada di Tanah Haram.
”Dakwah seperti ini paling berkesan dan mudah masuk pada hati masyarakat. Sebab, mereka saat diberi pencerahan langsung melihat objek yang disampaikan dalam dakwah,” terangnya.
Salah satu yang membuat Ra Wahid puas apabila syiar yang disampaikan diimplementasikan masyarakat.
Sebab, sebaik-baknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.
”Saya senang berdakwah karena tidak hanya ingin menjadi orang saleh, tetapi ingin menjadi musleh karena khoirunnas anfauhum linnas. Paling tidak jika mengajak orang lain diikuti, itu nanti akan menjadi amal jariyah,” pesannya. (bai/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia