PAMEKASAN, RadarMadura.id – Gus Hamid Amjad biasa melaksanakan kajian rutin setiap Rabu.
Kegiatan kajian rutin tersebut selalu dinantikan kawula muda dan puluhan ribu pengikut Gus Hamid Amjad di aplikasi Tiktok.
Maklum saja, pria bernama lengkap Hamid Amjad Hasan Djauhary tersebut biasa menyampaikan kajian secara offline dan online.
Tempatnya pun berganti-ganti. Namun, Rabu (13/3) malam, Gus Hamid memilih melaksanakan kajian rutin di musala rumahnya.
Rintik hujan menemani suasana kajian rutin malam itu. Namun, keadaan tersebut tidak mengurangi antusiasme kaum muda untuk mengikuti kajian secara offline meski sekitar 2–3 jam.
Gus Hamid dikenal ramah dan dekat dengan banyak orang. Tidak heran jika dawuhnya selalu dinantikan.
Tak terkecuali, bagi ribuan warga di dunia maya. Maklum, kiai 31 tahun itu memang aktif di media sosial (medsos).
Dakwah online Gus Hamid pertamanya dilakukan melalui aplikasi Facebook. Yaitu, membagikan kegiatan mengajarnya sejak 2015.
Kemudian, berlanjut pada platform Instagram. Dia sudah memiliki 19,8 ribu pengikut di aplikasi yang berlogo kamera tersebut.
Gus Hamid berdakwah satu tahun setelah pulang dari Makkah pada 2015.
Alumnus Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ), Arab Saudi, itu kali pertama diundang mengisi ceramah di Pusdik Sabhara Porong, Sidoarjo, pada 2016.
”Untuk bisa sampai ke tahap ini, saya harus melalui banyak proses. Pada awal-awal live streaming, saya dituduh promosi agar diundang orang dan lain-lain. Saya biarkan saja dan saya tetap lanjut,” ungkapnya.
Pendiri Pemuda Muslim Moderat (PMM) Pamekasan itu pernah mendapat teror dan ancaman karena dakwahnya dianggap menyimpang dari ajaran Islam.
Bahkan, ayahandanya, kakak, dan istrinya tidak luput dari hujatan.
”Saya diancam saat mengisi kajian di suatu daerah. Mobil saya juga dirusak. Saya pernah divideo oleh seseorang saat berceramah,” ceritanya.
”Dia mengatakan bahwa saya tidak pantas di posisi itu. Sebaliknya, saya disuruh cuci sandal saja,” sesalnya.
Gus Hamid mengaku sering menangis saat mendapat tekanan dan tuduhan ketika awal berdakwah.
Namun, dia tetap menyikapi bahwa pengalamannya itu bagian dari proses pendewasaan. ”Pesan ayah saya, jangan dilawan dan jangan berhenti untuk berjuang,” ucapnya.
Hinaan dan cacian tidak hanya dialami di dunia nyata. Gus Hamid juga sering mendapat perkataan yang tidak mengenakkan di medsos.
Namun, dia yakin dalam setiap ibadah pasti akan ada cobaan sehingga harus kuat menghadapi.
Karena itu, ketua Yayasan Lembaga Pendidikan Al Hasanul Muayyad Pamekasan tersebut tetap menyempatkan diri untuk berdakwah melalui medsos.
”Saya berdoa pada Allah, kalau saya ikhlas dalam berdakwah, maka viralkan,” pintanya.
Popularitas Gus Hamid semakin meroket setelah merilis sebuah lagu ciptaan sendiri berjudul Ramadhan pada 2023.
Banyaknya pengikut di medsos bisa menjadikan dakwahnya diterima dengan baik oleh banyak pihak. (afg/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News