Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Guru Itu Mengabdi, Bukan Mengharap Gaji

Ina Herdiyana • Rabu, 20 Maret 2024 | 13:10 WIB
Photo
Photo

Oleh UMAR FARUK FAZHAY*

KITA bisa membayar orang untuk mendidik anak dengan bayaran yang tinggi, tapi tidak dengan kepedulian mereka untuk mendidik dengan tulus dan sepenuh hati. Kepedulian tidak akan pernah bisa dibeli dengan apa pun, hanya guru yang punya ruhul mudarris yang mampu memberikan totalitas dan kepeduliannya untuk senantiasa mendidik dan mengasuh anak-anak kita dengan baik. Guru yang tidak memiliki ruhul mudarris akan banyak beralasan untuk meninggalkan profesinya. Sedang bagi mereka yang memiliki ruhul mudarris punya seribu alasan untuk setia dan tetap bertahan dalam pengabdiannya ”menjadi seorang guru”.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, KH Zuhri Zaini, BA, pernah menyampaikan bahwa ”menjadi guru itu bukan sebuah profesi tapi guru adalah pengabdian”. Dengan demikian, peningkatan produktivitas di dalam menjalankan tugasnya sebagai guru, bukan hanya ditentukan oleh tingginya kesejahteraan dalam hal materi, tapi lebih pada tersalurkannya ilmu pengetahuan yang terdapat dalam diri guru. Lebih-lebih ketika menyaksikan anak didiknya mampu memahami dan menguasai materi yang diajarkan, pasti akan melahirkan kepuasan batin yang tidak bisa ditukar dengan materi sebesar apa pun.

Guru adalah profesi mulia yang tidak bisa tergantikan dengan teknologi secanggih apa pun, katakanlah sekarang sudah ada mesin pencari Google yang memiliki data lengkap dan artificial intelligence (AI), tapi semua itu kan mesin yang tidak ada jiwanya, sementara proyeksi pendidikan abad 21 yang pertama adalah pembentukan karakter, hampir menjadi mustahil kalau karakter manusia masa depan akan dibentuk oleh teknologi yang tidak memiliki jiwa dan karakter. Maka dari itu, guru hadir sebagai pembentuk karakter, baik karakter moral maupun karakter kinerja.

Ada kisah menarik yang menggambarkan tentang kemuliaan guru, setelah Hiroshima dan Nagasaki Jepang dibom oleh Amerika, maka Kaisar Hirohito, bertanya ”Berapa guru yang masih tersisa?”, sontak para jenderal pun bingung mendengar pertanyaan tersebut, seraya menegaskan bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi kaisar sekalipun tanpa bantuan guru. Namun Kaisar Hirohito kembali berkata, ”Kita telah jatuh karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi, kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang dahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar, bagaimana kita bisa mengejar mereka? Maka, kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan”.

Pernyataan bijak seorang Kaisar Jepang ini, menunjukkan betapa mulia harkat dan martabat guru. Dan, sekarang sudah terbukti bahwa Jepang merupakan negara dengan kemajuan bidang teknologi digital terdepan. Jepang telah memainkan peran utama dalam pengembangan teknologi digital selama beberapa dekade terakhir dan banyak menghasilkan inovasi yang signifikan. Selain itu, kualitas guru di Jepang memang tidak diragukan, pasalnya orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi guru harus menjalani kuliah di universitas keguruan agar bisa mendapatkan lisensi guru. Selanjutnya untuk menjadi guru di daerah tertentu, mereka harus mengikuti tes di setiap daerah, tentu dengan standardisasi berbeda-beda dalam setiap daerahnya. Kemudian, dalam setiap sepuluh tahun para guru akan mengikuti pelatihan kembali dan ujian sertifikasi menjadi guru, dengan tujuan agar kemampuan dan pengetahuan guru up to date, kegiatan ini dilakukan semata-mata untuk meningkatkan pedagodik para guru, dan kualitas pendidikan secara umum. Jadi tidak ada hubungannya dengan kenaikan gaji.

Banyak ahli berpendapat bahwa kualitas pendidikan sebuah negeri dapat terangkat jika pendapatan per kapita negara tersebut tergolong bagus, namun faktanya menunjukkan berbeda. Harian Kompas, 16 Maret 2018, memberitakan bahwa Bank Dunia menjadikan negara Vietnam sebagai negara yang kualitas pendidikannya melesat maju, padahal pendapatan per kapita negeri tersebut tergolong rendah, yaitu 5.668 dolar AS, setengah dari Indonesia, yakni 10.385 dolar AS. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa besarnya tunjangan guru dalam bentuk sertifikasi tidak mencerminkan kualitas pendidik. Hal tersebut dia sampaikan kepada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada sebuah acara di aula Gedung Guru Indonesia di Jakarta, 10 Juli 2018. Beliau mengatakan bahwa sekarang, sertifikasi guru itu tidak mencerminkan apa-apa. Ini mungkin hanya prosedural untuk bisa mendapatkan tunjangan, bukan berarti dia profesional dan bertanggung jawab. Padahal, dana pendidikan saat ini sudah sangat besar, yakni Rp 444 triliun pada 2018. Hasilnya, kualitas Pendidikan Indonesia masih di bawah Vietnam.

Dengan demikian teori physiological needs atau kebutuhan fisiologis Abraham Maslow kadang kurang mendapatkan relevansinya ketika diterapkan dalam dunia pendidikan. Bahkan, bisa jadi akan melahirkan guru materialistik yang berujung pada kapitalisasi pendidikan. Maka dari itu, perlu perhatian yang serius tentang kajian ”pengabdian”, tidak hanya membekali calon guru dengan pengetahuan pedagogi, andragogi saja, tapi juga penanaman karakter ruhul mudarris yang kuat sehingga menghasilkan guru yang profesional dan penuh semangat juang, yang akhirnya melahirkan inovasi dan kreativitas tanpa batas dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Ini juga bisa menjadi masukan menarik bagi pemangku kebijakan bahwa banyak guru yang profesional dalam menjalankan tugasnya meski tidak pernah melalui proses sertifikasi, mereka mengajar siang-malam dengan sepenuh hati, bahkan pantang berhenti meski jarang menerima gaji. Waallahu alamu bimuradihi. (*)

*)PW PGMNI Jawa Timur

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Ina Herdiyana
#ramadan #guru #mengabdi #mengharapkan #pahlawan tanpa tanda jasa #gaji