Oleh MOH. ZUHDI*
RAMADAN adalah bulan suci yang penuh berkah. Allah SWT menyediakan pahala yang berlipat-lipat bagi umat Islam dan pintu-pintu surga pun dibuka pada bulan ini. Dengan demikian, bulan Ramadan ini menjadi kesempatan emas bagi setiap orang yang ingin memperbaiki diri dan membangun dirinya menjadi pribadi yang berkualitas. Bahkan, keberkahan bulan suci Ramadan tidak hanya pada aspek ubudiah semata, melainkan pada aspek lain seperti muamalah.
Itulah yang saya rasakan ketika menjalani bulan suci Ramadan ini di Kota Metropolis, Surabaya. Ketika itu, saya masih menjalani masa kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Sekarang sudah beralih status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Sebagai mahasiswa yang merantau dari Sumenep, saya lebih banyak menghabiskan waktu Ramadan di Kota Surabaya. Bahkan, liburan kampus pun saya jarang pulang, kecuali sudah mendekati Hari Raya Idul Fitri.
Saya kuliah di IAIN Surabaya pada 2007 dan lulus 2011 dengan nilai memuaskan. Perjalanan menempuh pendidikan di bangku kuliah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi di kota besar seperti Surabaya. Ada ungkapan yang sering muncul dari mahasiswa, ”Bisa bertahan hidup saja sudah luar biasa di Kota Metropolis”. Tidak seperti di pedesaan, tempat saya tinggal bersama keluarga. Di Surabaya, semuanya serbabayar dan mahal. Selain harus melunasi tempat kos tiap bulan, biaya pendidikan dan kebutuhan hidup sehari-hari memerlukan perjuangan yang tak mudah. Lebih-lebih bagi mahasiswa seperti saya yang lahir dari keluarga sangat sederhana.
Meski demikian, keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi membulatkan tekad saya untuk hijrah ke luar kota. Surabaya pun menjadi pilihan. Saya masuk di IAIN Sunan Ampel jurusan ilmu komunikasi di fakultas dakwah. Sebagai mahasiswa, saya mendapatkan berbagai tugas makalah dari para dosen. Namun, tidak seperti mahasiswa lain yang ekonominya menengah ke atas, setiap kali ada tugas, saya tidak bisa langsung membeli buku-buku literatur untuk menyelesaikan makalah.
Keterbatasan ekonomi memaksa saya harus mencari alternatif lain. Mencari di perpustakaan, atau pinjam ke teman-teman senior. Dengan begitu, saya tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan tugas. Sebab, jangankan untuk beli buku, untuk kebutuhan sehari-hari saja saya masih sering kekurangan. Namun, apa pun kenyataan itu, saya menyadari bahwa perjalanan hidup memang penuh dengan tantangan yang menuntut sebuah perjuangan.
Berbagai upaya pun terus saya lakukan untuk bisa bertahan hidup dan melewati masa-masa perjuangan di bangku kuliah. Walaupun setiap bulan saya mendapatkan kiriman dari orang tua, namun hal itu tidak cukup untuk biaya kos dan kebutuhan sehari-hari. Mau tidak mau, saya harus mencari penghasilan untuk menunjang kebutuhan itu. Salah satunya adalah bekerja di warung internet (warnet), bergantian bersama teman. Selain untuk mendapatkan penghasilan, bekerja sebagai penjaga warnet juga untuk menghemat pengeluaran. Paling tidak, dalam menyelesaikan tugas kuliah.
Untuk mengisi bulan suci Ramadan di Kota Metropolis itu, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar, mengkhatamkan banyak buku di perpustakaan kampus. Saya termotivasi untuk lebih banyak membaca, karena tradisi keilmuan di kampus benar-benar menuntut mahasiswa untuk lebih banyak membaca literatur. Tanpa itu, susah untuk mengembangkan keilmuan di dunia kampus. Karena itu, saya membuat target one day, one book.
Menjelang waktu berbuka tiba, saya mulai berhenti membaca. Setiap sore, ketika jarum jam menunjukkan pukul 16.30, saya mandi dan bergegas menuju Masjid Raya Ulul Albab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Selain untuk mengikuti pengajian keagamaan dan salat berjemaah, juga untuk buka bersama. Sebagaimana beberapa masjid yang lain, pengurus takmir Masjid Ulul Albab ini rutin menyediakan nasi bungkus untuk buka bersama bagi para jemaah secara gratis. Bisa dibilang, ”saya termasuk salah satu jemaah pemburu takjil untuk buka puasa Ramadan, hehe”. Namun, ada banyak hikmah di balik itu. Selain bisa menambah wawasan keagamaan melalui pengajian, juga aktif salat berjemaah dan mengikuti tadarus Al-Qur’an di masjid.
Dari perjalanan itu, saya semakin sadar bahwa keberkahan Ramadan bukan hanya pada urusan ubudiah, Allah SWT juga menyediakan pahala yang berlipat-lipat dalam setiap ibadah yang dilaksanakan. Ramadan juga mengandung banyak keberkahan untuk kebutuhan orang-orang yang kurang mampu seperti saya, apalagi hidup di Kota Metropolis. Bahkan, Ramadan juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi warga, seperti warung-warung penyedia makanan takjil yang turut merasakan keberkahan itu.
Seiring perjalanan waktu, saya juga mulai berpikir akan peluang itu dalam upaya membangun kemandirian ekonomi. Terkadang saya juga merasa tidak nyaman kalau sehari-hari hanya berupaya untuk ”memburu takjil gtatis” di bulan Ramadan. Lambat laun, saya mulai termotivasi untuk membuka usaha warung takjil bersama teman seperjuangan saya di kampus.
Saya berpikir, untuk apa malu dalam mencoba membangun kemandirian ekonomi dengan buka usaha? Pemikiran itu semakin menguatkan semangat saya untuk terus bertahan dan melanjutkan usaha jualan takjil. Saya jualan es buah kelapa dan beberapa minuman lainnya seperti jus lemon. Warung itu mulai buka setiap bakda salat Asar hingga tiba waktu azan Magrib.
Alhamdulillah, dari usaha itu saya mendapatkan penghasilan yang lumayan untuk kebutuhan sehari-hari selama menjalani puasa Ramadan di Kota Surabaya. Bahkan, dari hasil usaha tersebut, saya juga bisa pulang kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri untuk bertemu keluarga di rumah dengan ongkos yang lebih dari cukup. Saya yakin, ini semua adalah bagian dari berkah Ramadan dalam perjuangan yang penuh bebatuan terjal dalam upaya pengembangan pendidikan dan keilmuan. (*)
*)Alumnus Pondok Pesantren Nurul Islam Karang Cempaka, Bluto
Editor : Ina Herdiyana