SAMPANG, RadarMadura.id – Nama Ita Fajria Tamim tidak asing bagi kalangan pegiat literasi digital.
Sebab, pengasuh Ponpes Nazhatut Thullab, Prajjan, Camplong, Sampang, itu juga merupakan salah seorang pegiat literasi digital.
Neng Ita menceritakan, kecintaannya terhadap dunia literasi tumbuh sejak duduk di bangku kuliah.
Saat Covid-19, waktu banyak yang terbuang sia-sia. Karena itu, waktu luangnya dimanfaatkan untuk menulis artikel, opini, dan esai di media massa.
”Ternyata, saya menilai kalau menulis dan disumbangkan ke media online masih jarang dibaca oleh masyarakat,” terangnya.
Namun, saat itu dia menyadari pembaca di media massa dengan platform digital tidak banyak.
Karena itu, Neng Ita memilih untuk mengunggah karyanya di media sosial. Yakni, Instagram dan Tiktok.
”Ternyata lebih banyak pembacanya dan banyak yang menyukainya,” terangnya.
Karya yang ditulis mayoritas berkaitan dengan penyadaran pengembangan diri.
”Alhamdulillah, banyak yang menyukai. Sempat ada yang mengirim direct message (DM) memberitahukan bahwa ada rencana bunuh diri, tetapi tidak jadi setelah membaca tulisan saya,” ujarnya.
Neng Ita konsisten menekuni literasi digital sejak 2021. Hari-harinya dihabiskan dengan menulis.
”Berdakwah tidak melulu dengan ceramah di panggung yang audiensnya terbatas. Sedangkan dakwah melalui literasi digital, pembacanya tak terhingga (power full),” tukasnya. (bai/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News