SUMENEP, RadarMadura.id – Ning Virzannida Busyro sering disebut sebagai influencer. Perempuan asal Desa Beraji, Kecamatan Gapura, itu sering menebar manfaat dengan berdakwah di media sosial (medsos).
Pengasuh Ponpes Tahfidzul Al Karimiyyah Putri itu mengaku sudah lama memanfaatkan medsos untuk menebar kebaikan.
Semua itu berawal dari coba-coba saat membahas tentang keagaaman dan kesehatan di laman medsos miliknya.
”Video dakwah saya itu di-upload ke media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lainnya. Akhirnya viral dan sekalian dijadikan konten dakwah bagi masyarakat,” katanya.
Bagi Ning Virza, dakwah melalui medsos lebih efektif daripada di majelis.
Sebab, saat disebarkan di medsos, penontonnya bisa mencapai 3.000 orang. Sementara jika berdakwah di majelis, yang hadir hanya 200–300 orang.
Karena itu, dia terus memaksimalkan teknologi untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaannya kepada masyarakat luas.
”Saya penggiat pesantren di generasi milenial. Jadi, media sosial harus dimaksimalkan untuk hal baik seperti dakwah ini,” ucapnya.
Ning Virza menambahkan, dirinya sering menggabungkan aspek kesehatan dan keagamaan dalam pengelolaan ponpes yang diasuhnya.
Semua itu tidak lepas dari kapasitasnya sebagai dokter. Selain itu, dia ingin menjadikan lembaga yang dinakhodainya sebagai the cleanest pesantren in the world.
”Saya ingin menjadikan pesantren paling bersih di dunia. Tujuannya, menepis stigma negatif bahwa di pondok itu kotor dan banyak penyakit,” ujar Virza.
Bahkan, Virza sudah mendeklarasikan pesantrennya bebas penyakit tuberkulosis (TBC). Selain itu, Virza mengajari santrinya bertanggung jawab pada sampah masing-masing.
”Jadi, sampah di sini didaur ulang menggunakan konsep ecobrick. Sampah plastik itu dibersihkan dan dimasukkan ke botol, kemudian dijadikan meja, kursi, dan lain-lain,” imbuhnya. (iqb/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News