SAMPANG, RadarMadura.id – Madrasah Miftahul Ulum (MMU) Nurus Salam Kebun Anum (Nusaka) memiliki tiga program unggulan yang disalurkan kepada anak didik.
Yakni, program i’dadiyah, tahfiz Qur’an, dan ilmu tajwid. Melalui program unggulan tersebut, madrasah ini dapat melahirkan lulusan unggul.
Pengasuh Yayasan Raudlah Al-Syubban MMU Nurus Salam Kebun Anum R Muchtar Sya’roni mengutarakan, program di madrasah cukup banyak.
Namun, yang diprioritaskan hanya tiga. Sedangkan i’dadiyah merupakan program unggulan yang diadopsi dari Pondok Pesantren Sidogiri.
Muchtar menerangkan, program I'dadiyah Sidogiri fokus untuk memperdalam baca kitab kuning.
Dia meyakini, kemampuan baca kitab kuning menjadi fondasi bagi generasi muda di akhir zaman.
Sebab, dalam kitab kuning mengandung banyak ilmu agama dan dapat menjaga akhlak.
”Kami memilih program i’dadiyah Sidogiri karena ada dorongan majelis keluarga. Wali murid dan murid kami mendukung,” terangnya.
Program i’dadiyah menjadi panduan bagi murid MMU Nusaka untuk belajar membaca kitab kuning. Metode ini memudahkan murid sehingga menambah semangat belajar.
Sebab, cara belajarnya mudah, materinya simpel, dan disertai lagu-lagu yang membuat otak kanan murid semakin aktif.
”Untuk program i’dadiyah, kami fokuskan untuk murid kelas empat dan lima diniyah,” ulasnya.
Muchtar menambahkan, program tahfiz Al-Qur’an berawal dari ketua yayasan yang menginginkan murid hafal kitab suci. Minimal hafal juz 30 atau Juz Amma.
Program ini disiapkan untuk murid yang ingin melanjutkan pendidikannya di pesantren tahfiz Al-Qur’an.
”Setiap bulan kami uji murid yang hafal Al-Qur’an. Sebagai apresiasi, murid yang lulus uji kompetensi diberi reward agar jadi motivasi kepada yang lain,” imbuhnya.
Muchtar mengungkapkan, untuk menunjang program tahfiz, pihaknya juga merealisasikan program pembelajaran ilmu tajwid.
Program ini untuk mempermudah murid dalam membaca Al-Qur’an sesuai ajaran Islam. Program ilmu tajwid ditanamkan kepada siswa raudlatul atfal (RA).
”Siswa digembleng selama satu tahun penuh untuk memahami ilmu tajwid. Kalau sudah paham, baru diwisuda,” ungkapnya.
Muchtar menyatakan, siswa lulusan i’dadiyah dinilai mampu membaca kitab kuning.
Tidak sedikit, alumni MMU Nusaka diterima di program unggulan saat melanjutkan pendidikan di pesantren.
”Alhamdulillah, sebagian alumni kita masuk kelas unggulan ketika pindah ke pondok pesantren yang lebih tinggi,” tukasnya. (bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News