Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mari Menyambut Bulan Rahmat

Ina Herdiyana • Rabu, 13 Maret 2024 | 19:00 WIB
Photo
Photo

Oleh MOHAMMAD ZAINUL ALIM*

SELASA (12/3) seluruh umat Islam di seluruh dunia menjalankan ibadah puasa Ramadan. Puasa wajib yang dijalankan umat Islam bagi yang telah memenuhi syarat. Ramadan adalah bulan rahmah dan bulan penuh ampunan.

Sangat rugi bagi umat Islam bila tidak menjalankan ibadah di bulan suci ini dengan tidak bersungguh-sungguh karena Allah SWT.

Tidak sedikit hadis dan Firman Allah SWT yang menjelaskan keutamaan bulan suci Ramadan. Dari banyaknya pahala dan keutamaannya, kita umat Islam disarankan untuk berlomba-lomba berbuat baik dan selanjutnya menggapai kemenangan di hari Idul Fitri.

Salah satu hadis Nabi Muhammad SAW diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim menjelaskan mengenai betapa dahsyat keutamaan bulan suci Ramadan.

”Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan karena beriman dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu.”

Satu hadis sahih saja telah membuat kita bergembira. Saat kita menjalankan puasa wajib di bulan suci Ramadan ini tidak hanya mendapatkan pahala berpuasa. Lebih dari itu, ialah adanya garansi diampuni dosa-dosa kita yang telah lewat.

Begitu besarnya rahmat dan karunia Allah SWT tersebut tidak serta-merta dapat kita nikmati bila menjalankan puasa sekadarnya. Menjalankan puasa kudu dilandasi dengan iman dan mengharap pahala atau rida dari Allah SWT.

Melalui hadis di atas kita sangat dianjurkan menjalankan ibadah tahunan ini bukan semata karena alasan rutinitas dan kewajiban an sich sebagai umat Islam.

Lebih dari itu, menunaikan ibadah puasa Ramadan ialah menjalankan perintah wajib dengan bersungguh-sungguh karena Allah SWT. Bukan karena kita ber-KTP Islam atau berpuasa karena ikut-ikutan orang lain juga berpuasa.

 

Mempertebal Iman

Elemen kepatuhan dari isi hadis tersebut sangat jelas. Bahwa, iman dan harapan adalah kunci seseorang memperoleh rida dari Tuhannya.

Penjelasan iman tentu tidak sekadar menjadi prasyarat seseorang mengaku sebagai orang Islam. Anak-anak yang belum balig barangkali telah mengetahui bahwa rukun Iman yang berjumlah enam adalah asas pembentukan akidah seseorang dalam ber-Islam.

Iman kepada Allah SWT, iman kepada Malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada Rasul atau utusan-utusan-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qada dan Qadar atau ketetapan-Nya.

Sebagai makhluk berakal, kita tidak hanya berhenti pada enam jenis iman di atas. Ada banyak elemen keimanan yang seyogianya patut kita tanamkan di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bagian keimanan yang dapat kita tanamkan, menyitir pandapat Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin juz 4, ialah sabar dan syukur.

Sabar dan syukur ini adalah salah satu elemen dasar dari yang termanifestasi dari rasa iman. Al-Dailamy dalam Wusulul Firdaus memandang sabar dan syukur ini sebagai bagian dari pengejewantahan kita dalam beriman dan ber-Islam.

Sabar dan syukur adalah dua bagian yang menjadi satu. Seseorang yang benar-benar menebalkan keimanannya akan dipenuhi dengan sabar dan syukur.

Sabar dengan segala upaya yang telah ditetapkan hasilnya oleh Allah SWT kepada kita. Dan, bersyukur dengan segala pemberian Allah SWT kepada kita.

Seseorang yang telah menjadikan sabar dan syukur sebagai darah dan daging, maka ia tidak akan pernah berkecil hati dengan segala problematika kehidupan yang dihadapi.

Dengan adanya sabar dan syukur pada diri kita, kita tidak akan pernah menyerah dan berkecil hati dari apa pun pengharapan dan pemberian Allah SWT yang telah dianugerahkan kepada kita.

Dengan sabar dan syukur tidak ada istilahnya mengeluh apalagi meminta belas kasihan kepada selain pemberi rahmat, Allah SWT.

Saat kita memantapkan hati untuk bersabar dan selalu bersyukur, kita tidak akan pernah iri walau kehidupan kita saat ini tidak sama baiknya dengan yang diterima orang lain.

Tidakkah kita mengetahui bahwa sabar dan syukur juga menjadi sifat di antara sifat-sifat Allah SWT sebagaimana terkandung di dalam asmaulhusna.

Jadi, bila kita meniadakan rasa atau sifat sabar dan syukur di dalam diri kita, sama halnya kita meniadakan sifat-sifat Allah SWT.

Meniadakan sabar dan syukur di dalam diri manusia sama halnya menjauhkan para pencari kebenaran dari tujuan yang semustinya.

 

Mengharap Pahala

Seorang muslim yang menjalankan ibada puasa Ramadan berharap segala ibadah dan amal kebaikan akan dilipatgandakan.

Ya, bulan suci Ramadan adalah momentum untuk kita mengharap tercurahnya berlipat-lipat pahala dari Allah SWT.

Bulan suci Ramadan ini adalah momentum kita umat Islam menebalkan keimanan, bersabar, bersyukur, dan mengharap pahala sebanyak-banyaknya dari Allah SWT.

Banyak hal yang dapat kita lakukan agar pahala berlipat dilimpahkan pada kita semua. Pahala Allah SWT mungkin tidak dapat langsung kita nikmati.

Seperti halnya kita mengharap makanan enak dan makanan tersebut tersedia di meja makan.

Pahala bagi orang-orang yang beriman adalah kenikmatan saat menjalankan pengabdian hidup pada Sang Mahakuasa.

Berangkali kita tidak perlu berhitung tentang pahala. Karena pahala adalah hak prerogatif Allah SWT.

Sebaliknya, hal yang perlu dilipatgandakan di dalam kehidupan kita ialah pengabdian dan perbuatan baik.

Pengabdian kita sebagai umat Islam secara sederhana ialah menjalankan segala perintah Allah SWT dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Sedangkan amal saleh atau perbuatan baik sebagai penopang menuju kesempurnaan hidup di dunia dan sebagai bekal yang dapat mempermudah jalan menuju Allah SWT di hari akhir.

”Telah datang Ramadan, bulan penuh berkah. Allah SWT mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan tersebut terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan,” (HR. Ahmad).

Di bulan suci Ramadan ini, saya mengajak kita semua untuk menjadikannya sebagai momentum memperbaiki diri dan mengikat diri pada kehendak Ilahi. Memperbanyak ibadah dan berzikir.

Memperbanyak bersabar dan bersyukur. Memperbanyak memberi dan menebar senyum serta kebaikan kepada sesama. Setelah kita berupaya, selebihnya pasrahkan pada Sang Maha Pemberi Pahala. (*)

*)Pimpinan Pondok Pesantren Aqidah Usymuni, Sumenep

Editor : Ina Herdiyana
#puasa ramadan #ampunan #Rahmat #ibadah