RadarMadura.id – Bulan Rajab merupakan salah satu bulan suci dalam Islam yang memiliki banyak keutamaan.
Bulan ini juga menjadi awal dari tiga bulan yang disebut Asyhurul Hurum, yaitu bulan-bulan yang dihormati dan dilarang melakukan kezaliman di dalamnya.
Namun, di balik keutamaan bulan Rajab, ada beberapa tradisi yang berkembang di kalangan umat Islam yang tidak sesuai dengan syariat.
Misalnya, merayakan Isra Mi'raj pada tanggal 27 Rajab, mengkhususkan puasa pada hari-hari tertentu, atau menganggap bulan ini sebagai bulan istimewa untuk berdoa dan bermunajat.
Menurut Ustadz Abdul Somad, Lc., MA., sebagian tradisi tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dari Al-Quran dan Sunnah.
Beliau menjelaskan bahwa tidak ada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Mi'raj pada tanggal 27 Rajab.
Bahkan, para ulama berbeda pendapat tentang kapan tepatnya peristiwa tersebut terjadi.
Beliau juga mengatakan bahwa tidak ada hadits shahih yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengkhususkan puasa pada bulan Rajab.
Beliau hanya berpuasa pada bulan ini sebagaimana bulan-bulan lainnya, tanpa menetapkan hari-hari tertentu.
Jika ada yang ingin berpuasa sunnah di bulan Rajab, maka sebaiknya mengikuti sunnah Nabi SAW, yaitu puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15), atau puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak).
Beliau juga menegaskan bahwa tidak ada doa khusus yang disyariatkan untuk dibaca di bulan Rajab. Doa yang baik adalah doa yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, serta doa yang tulus dan ikhlas dari hati.
Tidak perlu mengada-ada doa yang tidak ada asal-usulnya, apalagi yang bertentangan dengan aqidah Islam.
Oleh karena itu, beliau mengimbau kepada umat Islam untuk tidak terjebak dalam tradisi yang tidak berdasar, tetapi mengikuti syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Bulan Rajab adalah bulan yang baik untuk meningkatkan ibadah dan amal shalih, tetapi tidak perlu berlebihan atau menyimpang dari tuntunan Islam. (hasan)
Editor : Hasan Bashri