Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi-Puisi Nubailul Asyraf*

Amin Basiri • Minggu, 26 April 2026 | 19:49 WIB
understanding abstract
understanding abstract

 


MENGEJA MADURA DALAM PAKAIAN DINGINNYA

Selaksa embun
Menyapa daun
Subuh mulai bangun
Rela hujan juga menerpa
Dengan gerimis, meredam tangis
Bumi yang meringis.

Bayu menyapu langit
Dengan awan biru
Tetap luruhkan rerintik
Kala pagi yang kehilangan terik
Berpilin dengan madah reranting
Dan dedaunan menanti kering.

Cakrawala mentadarus desing
Deras tak ingin usang
Selepas rembang
Terang melenggang
Jalad tetap menderu
Di ujung-ujung kuku,
Di setiap kelok tubuhku.
Lembayung menyapa malam
Tanpa kalung
Setia memberi untung
Magrib yang syahdu
Menyatu dengan sendalu.

Aku membiru, merindu
Madura dalam pakaian biru. 

Lubtara,26


DIALOG ADAM DAN JIBRIL

“Tidakkah kau lelah, Adam 
Menjadi wadah
Para khalifah
Yang tak bisa tabah
Semata menzikirkan serakah
Tiada mengadatkan madah
Padamu yang setia luruhkan berkah
Bahkan, mereka menghendaki tingkah
Barangkali bagiku, pantaslah
Engkau menyeru ilah
Mengulang sirah 
Bahtera Nuh 
Dalam pragraf lembar sejarah.”

“Duhai Jibril,
Bukan kutak lelah
Justru aku kalah
Tapi, aku ingin taat pada sang ilah
Hingga ia berfirman 
Memekikkan tembang
Akhir segala sayang
Pada Israfil
Telah lama menggigil
Musabab perilaku 
Yang tiada runtut dengan akil
Lebih permai jahil”

“Aku ingin taat pada sang ilah
Sampai lepas cekalan 
Atas tangan Izrail
Hilang tabah
Menyaksikan tempat semua memijak 
Mulai retak
Karena polah manusia latah
Pada fana yang hanya singgah.”

“Aku ingin taat pada sang ilah
Hingga ia kabulkan keluh kesah
Kepunyaan Atid
Yang menembangkan selaksa
Ejaan doa
Ihwal ambu tintanya,
Busuk penanya
Mengaji limbah-sampah
Refleksi fitrah
Manusia serakah”

“Bahkan, kudapati Malik
Telah mengeja doa
Selepas rimbun manggala 
Perihal meredam iba
Menelanjangi manusia
Dari hijab hidupnya.
Ia menghendaki sapa
Dengan terik bara,
Pendar neraka
Mereka yang menyayatkan luka
Pada tubuhku yang tak baka
Menguar aroma duka.”

“Duhai Jibril
Bukanku tak lelah
Tapi aku ingin taat pada sang ilah.”

Lubtara,26


MENUNGGU MENGAJI RIAK

Kueja asa
Pada setiap denting masa
Bersama derak tongkat,
Derap langkah
Saling mengikat.

Mari berjudi
Bahwa mereka juga bermimpi
Mengaji riak
Antara tanah lapang,
Air yang menolak hengkang.

Pawana mengaku lacur
Bila aku tetap diar
Melebur dengan peluh mengucur
Ia lekas memacu waktu
Tak peduli dedaunan kering melenting,
Gugur reranting
Antara roda yang melengking.

Di pengujung irama suling
Yang ditadarus denting
Aku membaca jejak
Tapak demi tapak
Kompas padang ilalang
Yang mereguk ingin
Pada pulang
Sekadar memutus angan.

Lubtara,26

KUCING YANG MATI BERSAMA ANJING

Kala irama kata-kata
Menjelma selaksa nyawa
Yang bertutur lacur peristiwa
Di ujung paragraf sejarah
Perihal noda darah:
Di sana 
Kudapati cemar
Seakan bertabir
Dengan hijab masa yang tiada kubil
Dari mulut-mulut mahasiswa
Bukan kehilangan kata-kata
Atau alibi untuk mencaci
Hanya tembok keji yang membayangi.


Kudengar orang-orang memekik
“Anjing-anjing itu harus dikubur
bayaran dari mereka yang menggali sumur”
lalu kulihat mereka
dengan rona yang entah
tak bisa kutafsirkannya
mengejar anjing-anjing itu
yang tunggang-langgang
menjauh dari pemengang parang
penodong moncong
menerbangkan selongsong
timah membuat melolong.

Selepas peristiwa itu
Mereka antah-berantah
Dan entah
Di kelokan sejarah
Barangkali pemerintah
Kudapati anyir darah
Di tanah, jalan yang rekah
Tiang lampu lelah
Menjadi saksi inca-binca
Bangsa yang belum dewasa.

Pada pengujung lembaran
Kujumpai kakek tua 
Yang membisik kata
“Ssst, ini darah golongan kiri”
Tapi bagaimana dengan kucing
Yang mati bersama anjing?

Lubtara,26

            
KALEIDOSKOP DARI ALAM

Serupa Sinta
Yang setia pada Rama
Diuji, di balik jeruji
Aku lebih tabah
Walau darah, nanah
Adalah uar dari rekah.
Di kotamu 
Tak ada penunjuk jalan
Nuju hilang keserakahan
Atau silang
Tanda akhir segala curang
Hanya biasa
Yang hina
Mereguk, lupa kembali menumpuk.

Gempa ataupun longsor
Dan koruptor
Yang menjadi sebab banjir kotor
Bukan _inary, tapi adalah hal nanar
Lembah subur
Peranti senang yang kufur
Bukan tepekur.
Derak reranting hilang 
Tak pernah pulang
Burung memainkan suling
Kalah dengan mesin yang melengking
“Rakyatku sekalian, kita harus bermigrasi
Menghindar, karena mereka tak peduli”
Raja hutan menyeru lantang
“Tapi ke mana? Mereka lupa bahwa kita ada”
Kelinci yang lebih kecil dari gajah 
Membantah, gerah
Pepohonan menjadi entah.

Dangau yang roboh
Adalah saksi keronta sawah.
Tapi kuasa
Tak punya iba.
Sungai keruh
Bukan lumpur
Kala kelabu mega gugur 
Barangkali, apa yang tak lapuk
Meski waktu muda mengetuk
Tetap membiak, beranak-pinak
Tak ada bahasa yang mengeja
Bahwa itu pekik luka
Dari apa, baginya mereka alpa.

Habis peduli
Pada lautan yang mengaku nyeri
Reklamasi berkali-kali
Bambu menjelma pagar besi
Tapi, camar masih saja enggan
Menapaki permukaan
Karena warna-warni
Tetap menari
Mereka kehilangan kaca
Sebelum bertaruh nyawa
Ikan tak lagi punya waspada
Hanya inca-binca
Laut yang ditinggal rona aslinya.

Lubtara,26

*)Penulis merupakan alumnus MI Nurul Islam sekaligus siswa MAT Annuqayah yang mendamba ilmu sebagai karibnya dan berkhalwat di PPA Lubangsa Utara

Editor : Amin Basiri
#puisi