TIDAK ADA YANG LAHIR KEMBALI HARI INI
hari ini tidak ada yang lahir kembali,
hanya aku
yang sedikit lebih jauh dari mula
kerut-kerut tak selalu tampak di wajah,
kadang ia berdiam di dalam pikiran,
di keputusan-keputusan
yang tak lagi sepolos dulu
waktu tidak pernah memberi selamat,
ia hanya berjalan
dan aku dipaksa ikut tanpa tawar
maka hari ini aku tidak merayakan apa-apa,
hanya memastikan diri masih di jalan
meski arah kadang samar
sebab menjadi tua
bukan tentang angka,
melainkan tentang berani tetap utuh
di tengah hal-hal yang terus berubah
3 April 2026
HANYA YANG TERSISA
hanya sunyi yang setia menunggu,
hanya langkah yang masih kupunya,
Hanya diri ini yang tersisa,
tanpa sorak, tanpa sandaran.
Namun dari yang serba “hanya” itu,
aku belajar
bahwa cukup tak selalu berarti kurang.
28 Maret 2026
TAK PERLU SEMPURNA
Sebelum sampai pada kata menerima,
aku pernah tersesat di antara tuntutan sendiri—
mengejar sempurna yang tak berwajah,
hingga lupa pulang pada diri.
Tak semua harus selesai hari ini,
tak semua harus menjadi benar seketika.
Ada ruang bagi jatuh dan ragu,
ada waktu bagi diri untuk belajar utuh.
Dan pada akhirnya, aku mengerti:
damai bukan tentang hilangnya badai,
melainkan keberanian berdiri di tengah gelombang yang mencekam.
tanpa lagi memusuhi diri sendiri.
28 Maret 2026
2026 (LUKA)
Di meja yang sama, kita pernah menyebutnya rumah,
menghimpun tawa seperti menabung cahaya.
Aku tak lagi ingat kapan retak itu bermula
mungkin saat kepercayaan diam-diam ditukar arah.
Sejak itu, aku belajar:
tak semua yang akrab adalah aman,
tak semua yang dekat berarti menjaga.
Ada yang tinggal, hanya untuk tahu
di mana letak paling rapuh dari dirimu.
Kini aku berdiri dengan sisa yang kupunya,
mengumpulkan diri yang sempat tercecer.
Bukan untuk membalas
hanya untuk memastikan
bahwa aku tak lagi menyerahkan luka
kepada nama yang kusebut “keluarga.”
28 Maret 2026
*)Penulis asal Sumenep yang kini tengah mencari makna hidup di PP Annuqayah Lubangsa dan Mahasiswa Universitas Anuqayah (UA).
Editor : Amin Basiri