Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

PUISI-PUISI KHAIRUL YAQIN

Amin Basiri • Minggu, 19 April 2026 | 11:14 WIB
Gambar oleh Julius H. dari Pixabay
Gambar oleh Julius H. dari Pixabay

TIDAK ADA YANG LAHIR KEMBALI HARI INI

hari ini tidak ada yang lahir kembali,

hanya aku

yang sedikit lebih jauh dari mula

kerut-kerut tak selalu tampak di wajah,

kadang ia berdiam di dalam pikiran,

di keputusan-keputusan

yang tak lagi sepolos dulu

waktu tidak pernah memberi selamat,

ia hanya berjalan

dan aku dipaksa ikut tanpa tawar

maka hari ini aku tidak merayakan apa-apa,

hanya memastikan diri masih di jalan

meski arah kadang samar

sebab menjadi tua

bukan tentang angka,

melainkan tentang berani tetap utuh

di tengah hal-hal yang terus berubah

3 April 2026

 

HANYA YANG TERSISA

 

hanya sunyi yang setia menunggu,

hanya langkah yang masih kupunya,

 

Hanya diri ini yang tersisa,

tanpa sorak, tanpa sandaran.

Namun dari yang serba “hanya” itu,

aku belajar 

bahwa cukup tak selalu berarti kurang.

28 Maret 2026

 

TAK PERLU SEMPURNA

Sebelum sampai pada kata menerima,

aku pernah tersesat di antara tuntutan sendiri—

mengejar sempurna yang tak berwajah,

hingga lupa pulang pada diri.

Tak semua harus selesai hari ini,

tak semua harus menjadi benar seketika.

Ada ruang bagi jatuh dan ragu,

ada waktu bagi diri untuk belajar utuh.

Dan pada akhirnya, aku mengerti:

damai bukan tentang hilangnya badai,

melainkan keberanian berdiri di tengah gelombang yang mencekam.

 

tanpa lagi memusuhi diri sendiri.

28 Maret 2026

 

2026 (LUKA)

Di meja yang sama, kita pernah menyebutnya rumah,

menghimpun tawa seperti menabung cahaya.

Aku tak lagi ingat kapan retak itu bermula

mungkin saat kepercayaan diam-diam ditukar arah.

 

Sejak itu, aku belajar:

tak semua yang akrab adalah aman,

tak semua yang dekat berarti menjaga.

Ada yang tinggal, hanya untuk tahu

di mana letak paling rapuh dari dirimu.

 

Kini aku berdiri dengan sisa yang kupunya,

mengumpulkan diri yang sempat tercecer.

Bukan untuk membalas

hanya untuk memastikan

bahwa aku tak lagi menyerahkan luka

kepada nama yang kusebut “keluarga.”

28 Maret 2026

 

*)Penulis asal Sumenep yang kini tengah mencari makna hidup di PP Annuqayah Lubangsa dan Mahasiswa Universitas Anuqayah (UA).

Editor : Amin Basiri
#puisi