Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi Ratna Juita: Omong Doang

Hera Marylia Damayanti • Senin, 30 Desember 2024 | 01:10 WIB
Ilustrasi puisi Ratna Juita: Omong Doang
Ilustrasi puisi Ratna Juita: Omong Doang

Omong Doang

Kau bicara seolah gunung bisa berpindah,

seolah langit bisa kau rengkuh,

tapi apa yang tersisa?

Hanya gema janji yang tak pernah nyata.

 

Omong doang,

seperti angin yang lewat,

dinginnya terasa sejenak,

tapi hilang sebelum sempat diingat.

 

Kata-katamu tinggi,

seperti bintang di malam hari,

tapi tak ada tangga,

tak ada tangan yang mencoba menggapainya.

 Baca Juga: Puisi Saiful Bahri: Rumah Osing Kemiren

Omong doang,

adalah bayangan di dinding,

terlihat besar,

tapi tak punya wujud untuk dipegang.

 

Aku tak butuh kata-kata lagi,

tunjukkan langkahmu,

biar dunia tahu,

kau lebih dari sekadar suara yang berlalu.

……………………………………………………

 

Medsos: Dulu Dicela, Sekarang Dipuja

Dulu mereka mencela, menilai dengan sinis,

menganggap dunia maya hanya tempat hampa,

tempat omong kosong yang tak bermakna,

dan kita hanyalah hantu yang tersembunyi di balik layar.

 

”Tak ada yang nyata di sini,” kata mereka,

”hanya ilusi dan kebohongan belaka.”

Namun kini, lihatlah, semua berubah,

medsos jadi pentas dunia yang penuh pesona.

Sekarang mereka yang dulu mencela,

terhanyut dalam hiruk-pikuknya,

menyusun status, berbagi foto,

mencari pengakuan, mengejar tanda cinta.

 

Dulu dianggap sampah, kini menjadi tren,

media sosial bagaikan kekuatan tanpa batas,

dari yang sinis menjadi pemuja setia,

seolah tak ada yang bisa hidup tanpa jejaring maya.

 

Begitulah dunia berputar, cepat berubah,

apa yang dulu dicela kini jadi pujaan,

medsos yang dahulu dianggap fana,

sekarang menjadi panggung bagi mereka yang berjuang.

……………………………………………………

Ada Yang Cemburu

Aku merasakan bisikan di udara,

Seperti bayangan yang tak tampak mata.

Ada yang cemburu, aku tahu itu,

Dari tatapannya yang penuh sendu.

 

Bukan aku yang ingin ini terjadi,

Bukan aku yang meminta perhatian ini.

Namun langkahku, entah mengapa,

Menjadi duri di jalan hatinya.

 

Jika aku memiliki lebih, itu titipan,

Bukan alasan untuk jadi perbandingan.

Hatimu juga berharga, percayalah,

Tak perlu tersiksa oleh rasa yang salah.

 

Cemburu bukanlah akhir dari cerita,

Biarkan ia berlalu bersama senja.

Karena aku tak ingin menjadi sebab,

Dari luka yang tak perlu kau tangkap.

Mari berdamai dengan dunia yang ada,

Setiap hati punya waktunya sendiri.

Dan siapa tahu, esok atau lusa,

Bahagiamu akan lebih indah dari yang kau duga

……………………………………………………

 

Malu Kan

Malu kan, ketika kata-kata terdiam,

Bergelayut di bibir, tak berani terucap,

Pandang mata menunduk, hati terimpit,

Ada sesuatu yang ingin disampaikan, namun terhalang rasa malu.

 

Malu kan, saat langkah terburu-buru,

Takut dilihat, takut dinilai,

Meski dalam hati, ada keinginan,

Tapi malu menahan, membuat jiwa terpenjara.

 

Namun, malu adalah pelajaran,

Bahwa keberanian bukan datang tanpa rasa,

Dalam diam, ada kekuatan yang tersembunyi,

Malu kan, itu hanya sementara,

Yang penting adalah bagaimana kita bangkit setelahnya.

……………………………………………………

Pemuja Susuk

Buat apa memakai susuk, yang tak berpengaruh apa-apa,

Jika yang melihat pun tak ada, yang memandang pun jarang,

Hanya menyelimuti diri dengan harapan palsu,

Mencari perhatian yang tak pernah datang.

 

Riasan luar tak membuat hati tenang,

Jangan terperangkap dalam gemerlap yang fana,

Memakai susuk hanya untuk ilusi,

Tapi batin tetap merasa hampa, tetap merasa sepi.

 

Buat apa, jika tak ada yang peduli?

Buat apa, jika hanya sekadar untuk diri sendiri?

Susuk itu mungkin memberi pesona sementara

Namun tak akan lama menutupi luka yang membara

 

Jiwamu kosong terbungkus dalam bayangan yang samar

Jika yang diinginkan hanyalah pengakuan yang tak kunjung datang

Karena keindahan yang sejati bukan dipaksakan,

Tapi datang dari dalam, tulus, alami, dan sesuai kenyataan

 

Buat apa memakai susuk yang tak berpengaruh,

Jika yang terpenting adalah rasa damai yang tak ternilai,

Tak dilihat dan tak dipandang pun tak mengapa,

Selama kita tetap memandang diri dengan penuh cinta

……………………………………………………

 

*)Lahir di Malang, 20 April 1984. Menempuh pendidikan pascasarjana Prodi Keguruan dan Ilmu Keguruan Magister Teknologi Pendidikan di Unitomo. Tulisannya terkumpul dalam buku Butiran Debu (Twilight of Happiness), Ayahku Jagoanku (Sosok Tangguh Itu Ayah), dan Aku dan Hujan (Tetes Tirta Amarta).

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#susuk #Malu #cemburu #omong doang #pemuja #dipuja #medsos #dicela