Cangkir Harapan
Di balik jendela, embun berkilau,
Dingin menyelimuti, pagi masih bermimpi.
Aroma kopi menari di udara,
Membangunkan jiwa, mengusir sepi.
Setiap tumbukan, suara jantung,
Mengalun lembut, menyentuh kalbu.
Biji-biji hitam, bercerita tenang,
Menjadi rindu, dalam setiap gelas penuh.
Si hitam manis yang bersahabat,
Dari tangan terampil, lahirkan keajaiban.
Dalam cangkir kecil, dunia terasa hangat,
Momen berharga, saat kita berbagi cerita.
Dengan setiap seruput, terjalin harapan,
Rasa yang mengisi, melukis pagi ceria.
201024
………………………………………………
Bumi Madura
Di bawah langit, riuh sorak menggema,
Dua ekor sapi berlari, beradu jiwa,
Dengan mata bercahaya, semangat membara,
Menjulang harapan di tiap detak langkahnya.
Panjang jalur, berdebu bergetar,
Petani mulai bersorak, bangga tak terkira,
Tradisi hidup dalam setiap debu.
Keringat membasahi dahi, tak kenal lelah,
Menyatukan hati dalam satu tujuan.
Setiap hentakan seperti tarian yang anggun,
Menggugah rasa, menyalakan jiwa,
Di tengah sawah, di balik langit terbuka,
Karapan sapi, lambang cinta dan karya.
di bumi Madura,
tradisi masih abadi.
30924
………………………………………………
Tawaran
Ruang Tunggu
Aku duduk di depan pintu
Berdua dengan sunyi
Bertiga dengan banyangan.
Dan engkau sembari menasbihkan rindu
Di sudut ruang.
:kau kembali
Sambil menunggu tawaran restu
Ibu, Bapakmu.
15072024
………………………………………………
*)Santri Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa. Aktif di Komunitas Munulis Pasra (Kompas). Mahasiswa Universitas Annuqayah
Editor : Ina Herdiyana