Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi BH. Riyanto: Tepi Magrib

Ina Herdiyana • Minggu, 13 Oktober 2024 | 23:20 WIB
Ilustrasi Jawa Pos
Ilustrasi Jawa Pos

Tepi Magrib

Khusyuk yang didesirkan gerimis

Melinangkan air matamu ke tepi magrib

Isyarat-isyarat yang tak hanya bisu itu

Mendekap hening dan rindu bertubi-tubi

(2024)

……………………………….

 

Datang dan Pergi

Petang beranjak sepelan degup doa

Dalam diam kau pun kembali berkidung

Mengapa datang dan pergi kerap tak sama?

Meski bisa saja sama

Dicerna dan dimakna 

Atau dirasa!

(2024)

……………………………….

 

Sepimu

Siapakah yang membelaimu

Ketika seluruh nyeri luruh di pelupuk mata sepimu?

Duhai, siapakah yang melukiskan segenap tanda, atas segala rindu membirumu?

Dan di sisa isak yang paripurna

Manakah kini sesungguhnya yang paling berarti

Sepimu atau kenangankah?

(2024)

……………………………….

 

 

Menakar Senyap

Ia menakar senyap

dari segenap riuh rindu 

Dan senja memeluk hatinya

yang kian jingga

Ia pun terpaku

Dari sepi ke perih

dari perih kembali

ke jantung sepi

Ya, ia menakar senyap

Mungkin

hingga ke tangis rindu

paling pilu

(2023)

……………………………….

 

Setiap Rindu

Setiap rindu adalah nyanyian desir angin; melambaikan daun-daun doa; yang mengekalkan selaksa kegelisahan pada isak kekasih

Setiap rindu adalah kelebat bayangan awan-awan kelabu; memahat segenap lirih perih di ufuk-ufuk penantian

Setiap rindu adalah gemulung gelombang; yang tak henti beriak di samudra kesendirian; menabuh ribuan senja; yang turun begitu perlahan 

Maka setiap rindu adalah kau-aku; yang selalu tabah mendekap segala nyeri luka; pada selengkung bianglala kenangan

(2023)

……………………………….

 

Di Dermaga Kecil Itu

Senja pun datang padamu, tanpa kopi. Tanpa cerita.

Derau angin berkali menampar mata sayumu. Sampai kapan kau menanggung lebamnya rindu?

Di dermaga kecil itu, ada yang hendak kau tulis. Mungkin gelegak ombak. Atau gemuruh di palung hatimu.

Lampu-lampu di tepian mulai menyala. 

Sedang kau tak jua beranjak. Menatapi senja yang hilang perlahan; tanpa kopi, tanpa cerita.

Tanpa kata-kata.

(2023)

……………………………….

BH. RIYANTO atau Budi Hariyanto lahir pada 15 Oktober 1973. Menulis puisi dan melukis. Buku-buku puisinya Pesan Pendek dari Tuhan, Suramadu, Kisah Kau-Aku, Hujan yang Mengguyur di Sepanjang Ingatan, La’ang,dan Musim Orang Mati. Sejak 1997 mengajar seni budaya di SMAN 1 Pademawu. Tinggal di Desa Kaduara Barat, Larangan, Pamekasan.

Editor : Ina Herdiyana
#sastra #puisi #jprm #sajak #budaya