Khalil Setta Elman
tak ada ruang-ruang pencil baginya
dan butiran kata tersebar
sebagai serat cinta
serta kerinduan paling purba.
seolah-olah ada merkuri di bawah lidahnya.
setiap lontaran menyalakan makna
menjadi pelita sepanjang langkah.
dan segala sesuatu ada batasnya termasuk kesedihan, lil
dan kau bebas melipatkan cinta, rindu, juga kesedihan sebagai kata-kata
;sebab kau dilahirkan sebagai penyair
bukan penyaring garam dalam laut penderitaan.
2024
………………………..
Cinta yang Abstrak
aku bermain bersama cinta yang abstrak
seperti permainan bocah, menciptakan
pertikaian baru dengan air mata.
aku bermain bersama cinta yang abstrak
tak henti-henti berkelahi dengan hati
membidikkan segala jenis permainan
untuk ditempuh sebagai kerinduan.
2023
………………………..
Untuk Haliza
za, kucium aroma hujan
seperti kau yang membawanya.
jalanan basah,
daun-daun berjatuhan.
dan kita tahu bahwa musim gugur telah jauh,
tapi mengapa air matamu jatuh?
dan aromanya seperti tanah baru disentuh
sehingga pekat menusuk pembuluh darahku.
2023
………………………..
Muang Sangkal
telah tertabur sekepal beras di seribu arah mata angin
memulangkan sangkal paling jahat
wahai roh nenek moyang,
jagalah kami di tanah ini
dari dentur-debur ombak yang keruh.
tidurkanlah bencana dalam pangkuanmu.
oh
nenek moyang
leluhur kami
jangan lebur legamkan tanah ini.
oh
petuah bumi
jangan pecahkan nyali kami
telah kami hadiahi sekepal beras sebagai mantra
sebagai puja, bahwa kau tak pernah tiada.
2024
………………………..
Desember sampai Januari
desember mengirimkan badai,
gelombang dan sesal.
kubayangkan laut mendekap padaku
memelukkan sunyi yang jauh. di palung kegelapan
bau amis kehampaan merenggut kepulangan.
oh, kedamaian
bukankah bising adalah musuh?
bukannya sendiri adalah kesedihan?
tapi ombak telah mencatat maut
dari desember sampai januari
bagi kami kaum pesisir
yang berlayar melempar jala
mendorong sorok
untuk menangkap ikan dan udang.
2023–2024
………………………..
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti