Permainan Tradisional Dapat Kembangkan Motorik dan Fisik Siswa

Amin Basiri • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:12 WIB
CERIA: Sejumlah siwa SDIT Nurul Rahmah bermain engklek di area Stadion Gelora Bangkalan kemarin (13/8).
CERIA: Sejumlah siwa SDIT Nurul Rahmah bermain engklek di area Stadion Gelora Bangkalan kemarin (13/8).

BANGKALAN, RadarMadura.id – Banyak cara dilakukan sekolah dalam menyambut kemerdekaan RI. Salah satunya memperkenalkan permainan tradisional. Kegiatan ini dinilai sangat efektif untuk mengembangkan daya motorik anak.

Salah satu sekolah yang mengenalkan permainan tradisional kepada siswa adalah SDIT Nurul Rahmah. Kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman Stadion Gelora Bangkalan (SGB) kemarin (13/8). Siswa-siswi berseragam merah putih bersama guru dan fasilitator dari Kampoeng Dolanan Surabaya memenuhi area stadion.

Fasilitator dari Kampoeng Dolanan Mustofa menyampaikan, ada 10 permainan tradisional yang dikenalkan dalam kegiatan tersebut. Antara lain, jejak langkah, engklek, boy-boyan, lompat tali, dan wenga Papua. Selain itu, ada kopral, aboba, egrang bambu, bakiak, dan gledekan.

Dia menerangkan, permainan tradisional tersebut sering diterapkan ke sekolah-sekolah, terutama untuk kelas rendah, khususnya kelas I dan II. ”Kami ingin anak-anak generasi masa kini tidak hanya bermain game di HP, tetapi juga mampu bermain permainan zaman dulu yang sangat membantu kecerdasan berpikir dan kerja sama,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SDIT Nurul Rahmah Nurushshiyam Rahmawati menuturkan, kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kembali permainan yang mulai tergeser oleh perkembangan teknologi digital. ”Alhamdulillah, siswa-siswi antusias. Mereka terlihat aktif bergerak dan menikmati permainan bersama teman-temannya,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, permainan tradisional menjadi media untuk mengasah keterampilan sosial. Siswa belajar bekerja sama, berkomunikasi, berbagi peran, serta memahami pentingnya menghargai teman. ”Melalui permainan tradisional, anak-anak tidak hanya bermain. Mereka juga belajar bekerja sama, mengikuti aturan, jujur, dan sportif,” terang Nurushshiyam Rahmawati.

Nurushshiyam Rahmawati menjelaskan, mayoritas anak terlibat aktif dan saling memberikan dukungan kepada anggota kelompoknya. Bahkan, siswa yang sebelumnya belum mengenal permainan tersebut menunjukkan rasa penasaran dan bersemangat untuk mencoba.

Sebagian anak diketahui pernah mendengar dan melihat permainan tradisional dari orang tua maupun lingkungan sekitar. Namun, mereka belum pernah memainkannya secara langsung. Sebagian lainnya justru lebih terbiasa menghabiskan waktu dengan gim digital di rumah.

”Saat bermain, mereka juga belajar mengendalikan emosi ketika kalah dan berusaha mencoba kembali tanpa menyalahkan teman,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami bahwa setiap permainan memiliki aturan yang harus ditaati. Dengan demikian, dibutuhkan sikap jujur dan sportif.  ”Kami berharap, kegiatan ini dapat membentuk karakter positif anak dan menciptakan iklim sekolah yang lebih akrab, inklusif, dan mengedepankan nilai kebersamaan,” pungkasnya. (ina/han)

Editor : Amin Basiri
SDIT Nurul Rahmah permainan tradisional