Tradisi Pesantren Tak Boleh Tergerus Zaman, Mahasiswa Baru STAI Nurul Abror Arrobaniyyin Diajak Berani Menjemput Inovasi

Amin Basiri • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:04 WIB
SEMANGAT: Wakil Kepala JPRM Biro Pamekasan Moh. Ali Muhsin menjadi pemateri kegiatan Maosabar, Senin (10/8).
SEMANGAT: Wakil Kepala JPRM Biro Pamekasan Moh. Ali Muhsin menjadi pemateri kegiatan Maosabar, Senin (10/8).

PAMEKASAN, RadarMadura.id Masa Orientasi Mahasiswa Baru (Maosabar) STAI Nurul Abror Arrobaniyyin Koordinator Al Majidiyah, Plakpak, Pengantenan, Pamekasan kembali digelar. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi calon mahasiswa untuk memperkuat jati diri sebagai insan akademik sekaligus tetap berakar kuat pada tradisi pesantren.

Kegiatan yang digelar Senin Agustus itu mengangkat tema, Merawat Tradisi, Menjemput Inovasi: Pesantren dalam Harmoni Nasionalisme dan Akademik. Wakil Kepala Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Biro Pamekasan Moh. Ali Muhsin berkesempatan menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut.

Muhsin menjelaskan, tema tersebut penting di tengah perkembangan zaman yang menuntut lulusan pesantren tidak hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga kompetensi profesional sesuai bidang keilmuannya. Pria kelahiran Sumenep itu mengajak calon mahasiswa agar tidak melihat tradisi dan modernitas sebagai dua hal yang harus dipertentangkan.

Menurut dia, tradisi pesantren merupakan kekayaan intelektual dan moral yang harus tetap dijaga. Namun, menjaga tradisi bukan berarti menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

”Tradisi pesantren harus tetap kita rawat, terutama tradisi keilmuan, akhlak, adab kepada guru, kiai, dan sesama. Tetapi, pada saat yang sama, kita juga harus berani menjemput inovasi dan menguasai kompetensi yang dibutuhkan zaman,” pesan Muhsin di hadapan peserta Maosabar.

Ketua Punggawa Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI) Jatim itu juga menegaskan, mahasiswa yang berasal dari pesantren harus mampu membawa nilai-nilai pesantren ke dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian, identitas pesantren tidak berhenti pada simbol, tetapi menjelma menjadi karakter dan etos profesional.

Muhsin mencontohkan, santri tidak harus memilih antara menjadi ahli agama atau profesional di bidang lain. Justru, idealnya lahir generasi yang memiliki kompetensi ganda.

”Misalnya, ada santri yang menjadi dokter. Diharapkan bukan hanya menjadi dokter yang profesional, tetapi juga dokter yang memiliki pemahaman agama, mampu membaca kitab, serta memahami nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis,” ujarnya.

Begitu pula dengan guru, pengusaha, akademisi, teknokrat, jurnalis, dan profesi lainnya. Menurut dia, pola tersebut merupakan salah satu bentuk nyata bagaimana pesantren menjawab tuntutan zaman.

Santri tetap memiliki akar keagamaan yang kuat, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, dan dunia profesional.

Karena itu, Muhsin meminta calon mahasiswa memanfaatkan kesempatan kuliah sebagai ruang untuk memperluas wawasan. Kuliah, kata dia, tidak boleh hanya dimaknai sebagai proses mendapatkan ijazah, tetapi sebagai proses membangun kapasitas, karakter, jaringan, dan kemampuan berpikir.

”Jangan sampai setelah menjadi mahasiswa, kita hanya mengejar gelar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh benar-benar membentuk cara berpikir, memperkuat akhlak, dan melahirkan kompetensi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya. (sin/han)

Editor : Amin Basiri
Maosabar 6 pamekasan mahasiswa baru