Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Ketika Guru Tidak Takut Gagal: Sebuah Refleksi

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 17 September 2025 | 13:00 WIB
Gemala Qurbani, Guru di SDN Pademawu Barat 1
Gemala Qurbani, Guru di SDN Pademawu Barat 1

IBU, itu hasilnya salah, seharusnya 2.” Seorang murid mengoreksi jawaban guru di papan tulis. Apa yang akan dilakukan sang guru menghadapi hal tersebut? Apakah akan terdiam, dan segera mengoreksi jawaban. Atau akan melihat ke murid tersebut, tersenyum lalu berkata, ”Terima kasih koreksinya, ternyata Ibu salah ya, ayo kita perbaiki”. Sikap dan tindakan yang diambil guru akan diamati oleh murid dan memengaruhi pola pikir dan sikap mereka. Guru adalah teladan.

Ing ngarsa sung tuladha, ”di depan memberi teladan”, kalimat semboyan dari Bapak Pendidikan Ki Hadjar Dewantara ini mengandung makna agar guru dapat menjadi teladan yang baik bagi murid. Namun, bagaimana kenyataannya saat ini? Sudahkah para guru menjadi teladan yang baik bagi muridnya?

Menjadi teladan bukanlah perkara mudah. Bagi umat Islam, teladan terbaik sepanjang zaman adalah Rasulullah Nabi Muhammad SAW, manusia pilihan dengan akhlak terpuji dan tanpa cela. Selain itu, tentu saja setiap manusia memiliki kelemahan, memiliki kekurangan, namun hal ini bukanlah alasan untuk tidak menjadi teladan yang baik.

Teladan tidak hanya dari sisi tingkah laku dan perbuatan, namun juga teladan bagaimana guru mengelola emosi di kelas, bagaimana guru mengambil keputusan, bagaimana guru memanajemen konflik, termasuk bagaimana cara guru berpikir dan menyikapi kesuksesan, kebahagiaan, kesalahan atau kegagalan. Cara berpikir akan menentukan keputusan apa yang akan kita ambil.

Carol Dweck, seorang profesor psikolog dari Universitas Stanford mengembangkan konsep growth mindset (pola pikir bertumbuh), yaitu suatu keyakinan bahwa kompetensi dan kecerdasan dapat dikembangkan melalui dedikasi dan kerja keras. Pola pikir bertumbuh begitu kiranya terjemahan yang tepat untuk growth mindset, sebuah pola pikir yang kini tengah gencar disosialisasikan seiring dengan penerapan pendekatan pembelajaran mendalam di kurikulum di sekolah.

Pola pikir bertumbuh dan pola pikir tetap adalah dua pola pikir yang dimiliki oleh semua manusia. Jika ada seseorang mengatakan bahwa saya hanya memiliki pola pikir tetap atau pola pikir bertumbuh saja, maka hal itu dapat dipastikan mustahil. Setiap manusia dapat memilih dan melatih pola pikir mana yang ingin dikembangkan dan dikuatkan. Pola pikir bertumbuh meyakini bahwa setiap orang dapat berkembang, kepintaran dan bakat itu tidak mutlak, setiap orang dapat melatih keterampilan yang ingin dicapai. Jadi tidak ada istilah ”Saya tidak bisa” melainkan ”Saya belum bisa”.

Masa depan bisa dibentuk, pola pikir bertumbuh meyakini ini. Kerja keras, usaha, doa, latihan yang sungguh-sungguh dan terstruktur akan menghasilkan sesuatu yang pola pikir tetap tidak dapat gapai, yaitu kemajuan dan keberhasilan. Salah satu prinsip yang dapat menjadi jalan pembuka untuk mengembangkan pola pikir bertumbuh yaitu prinsip ”tidak takut gagal”.

Sebuah lingkungan yang dapat mendukung tumbuhnya pola pikir dengan prinsip tidak takut gagal adalah lingkungan yang mendorong kerja keras, keberanian mengambil risiko, mengatasi tantangan, dan menciptakan rasa aman sehingga tumbuh perasaan tidak takut salah, tidak takut gagal. Sudahkah lingkungan sekolah kita mengakomodasi hal ini?

Baca Juga: Menkeu Purbaya beri sinyal CPNS 2026 dibuka, cek rincian gaji terbaru dan strategi persiapan agar lolos jadi PNS

Sifat-Sifat Guru dengan Pola Pikir Bertumbuh

Annie Brock dan Heather Hundley dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Komunikasi Efektif untuk Mindset Tumbuh: Terampil memilih kata-kata yang tepat dalam memuji dan mengkritik anak didik Anda, menuliskan beberapa sifat yang perlu dimiliki guru dengan pola pikir bertumbuh yaitu fleksibel, berharapan tinggi, komunikatif, akrab, berorientasi pada proses, menghargai kesalahan, berempati, kompak, dan bijaksana.

Fleksibilitas guru dalam memahami kebutuhan murid yang berbeda-beda penting dilakukan agar tercipta ruang yang aman dan nyaman bagi murid untuk percaya diri dan tidak merasa gagal atau terintimidasi karena belum mampu mengikuti kecepatan belajar teman lainnya atau belum mampu memahami materi pelajaran dengan baik.

Berikutnya adalah berharapan tinggi. Siapa yang tidak senang mengajar siswa yang cepat memahami pelajaran, terpuji tingkah laku dan tutur katanya, aman dan nyaman saat belajar dan bergaul dengan teman-temannya di kelas? Saya yakin semua akan menjawab pasti senang sekali. Namun, tidak semua murid di kelas seperti itu. Perbedaan latar belakang keluarga, sosial, ekonomi, nilai-nilai yang dipegang dan faktor lainnya akan mengakibatkan keberagaman karakter murid di ruang kelas.

Apakah murid-murid dengan karakter yang sulit dan lambat memahami pelajaran berarti akan gagal dan tidak memiliki harapan yang tinggi untuk masa depannya? Saya sering memikirkan hal ini, berkaca dari pengalaman hidup pribadi dan sekitar. Jawabannya ”belum tentu”, semua murid, apa pun karakternya berhak untuk mendapatkan harapan yang tinggi untuk masa depannya, dan tugas guru di kelas memfasilitasi hal tersebut. Pemberian motivasi, penghargaan, umpan balik membangun baik verbal maupun nonverbal akan sangat berarti bagi murid. Apa pun karakternya, beri mereka harapan tinggi untuk masa depannya.

Sifat ketiga yang harus dimiliki guru agar memiliki pola pikir bertumbuh adalah komunikatif. Guru yang mampu berkomunikasi dengan baik kepada murid akan dapat membangun hubungan positif dan meningkatkan kepercayaan murid terhadap guru. Guru dengan pola pikir bertumbuh tidak akan berfokus pada hasil akhir belajar murid saja, namun akan fokus mengomunikasikan, memberi umpan balik membangun pada proses belajar murid.

Sifat berikutnya adalah akrab. Guru yang akrab dengan murid bukan hanya guru yang sering bersenda gurau dengan murid saja, namun lebih dari itu. Guru yang menunjukkan kepedulian, perhatian yang tulus, mengetahui kebiasaan murid, lingkungannya, mengenal orang tuanya, minat, keinginan mereka akan mampu menunjukkan rasa hangat dan akrab dengan murid.

Berorientasi pada proses. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, dalam pola pikir bertumbuh proses lebih diperhatikan daripada hasil. Bukan berarti hasil tidak penting, namun proses dalam menuju hasil tersebut perlu diperhatikan dan terus diperbaiki sebagai sebuah usaha dan latihan yang terus menerus. Apabila hasil belum sesuai dengan harapan, maka kita sebagai guru perlu mengajak murid untuk berefleksi dan fokus pada perbaikannya. Dalam proses ini penting untuk diperhatikan bahwa dalam memuji ataupun mengkritik, yang dipuji dan dikritik adalah prosesnya, bukan orangnya.

Sifat berikutnya adalah menghargai kesalahan. Salah adalah bagian dari proses belajar. Kalimat bijaksana mengatakan kalau tidak ada kesalahan, maka tidak ada kebenaran. Melalui proses membuat kesalahan, murid belajar bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki untuk mencapai kebenaran, sehingga saat kebenaran itu diperoleh, murid akan lebih menghargainya sebagai bagian dari proses belajar.

Empati, sifat ini perlu dimiliki oleh guru dengan pola pikir bertumbuh, dan sepertinya tidak hanya guru, namun penting dimiliki oleh setiap manusia sebagai makhluk sosial. Empati kini menjadi sesuatu yang mahal dan semakin sulit dilakukan. Berkaca pada kejadian 28 Agustus 2025 lalu, saat para buruh dan pekerja ojek online turun ke lapangan berdemonstrasi untuk menuntut hak-hak dan perbaikan kebijakan, pihak DPR tidak berkenan menemui bahkan memberlakukan work from home (WFH) dengan alasan agar tidak kesulitan saat keluar dari gedung DPR karena jalan tertutup para demonstran. Dari kejadian ini kita melihat empati yang dimiliki para pejabat legislatif tidak nampak. Apabila ada empati, maka akan disediakan ruang yang cukup untuk mendengar aspirasi para pedemo, akan ada rasa yang dibagi sehingga kedua belah pihak dapat berkompromi dan saling mengerti. Akan ada waktu untuk seribu kali berpikir sebelum bertutur kata dan bertingkah laku. Nirempati telah meranggas dan mulai hilang di negeri ini.

Bagaimana dengan ruang kelas? Saya rasa tidak jauh beda. Dengan dalih bahwa guru yang paling mengetahui apa yang murid butuhkan di kelas, tidak jarang kita memberi label pada murid yang malas belajar atau pembuat masalah di kelas sebagai anak yang nakal dan susah diatur. Padahal, mungkin bila kita mencoba melihat dari sudut pandang anak tersebut, dia sedang meminta pertolongan karena ketidakmampuannya mengelola emosi dan terlibat dalam pelajaran. Dengan empati, sesuatu menjadi lebih berarti.

Sifat berikutnya adalah kompak. Kompak di sini dalam arti saling membantu, saling berbagi. Kurikulum Merdeka telah berusaha mendorong tumbuhnya sifat ini dalam diri guru melalui gagasan pembentukan komunitas belajar. Komunitas belajar ini diharapkan dalam menjadi wadah bagi guru untuk meningkatkan kekompakan dengan bergotong royong dan bekerja sama saling belajar dan saling berbagi untuk meraih tujuan bersama. Kini istilah pertemuan rutin komunitas belajar telah berubah menjadi hari belajar guru yang sifatnya lebih luas, guru bisa belajar dari mana saja dan kepada siapa saja.

Sifat terakhir adalah bijaksana. Bijaksana merupakan hal sulit bila kita sebagai guru terbiasa berat sebelah dan cenderung mengutamakan stigma. Perlu dipahami di sini ada perbedaan antara keadilan dan kesamaan. Salah satu murid mungkin akan merasa tidak adil apabila saat mengerjakan tes sumatif ada siswa yang duduk di dekat guru dan soalnya dibacakan. Kita pun mungkin akan berpendapat demikian. Namun, apabila ditilik lebih jauh, ada alasan mengapa hal tersebut akhirnya menjadi keputusan guru. Secara bijaksana, setelah melihat kekurangan dan kebutuhan salah satu murid, maka guru mengambil keputusan untuk membacakan soal tes sumatifnya. Bukan tanpa alasan dan atas asas kesamaan, melainkan karena keadilan. Setiap orang berhak untuk mendapatkan sarana prasarana dan pelayanan di kelas secara adil sesuai kebutuhan masing-masing.

Dengan menumbuhkan sifat-sifat yang telah dijelaskan di atas, guru dapat berlatih untuk mengembangkan pola pikir bertumbuh dan menularkannya pada murid-murid di ruang kelas. Jika para guru sungguh-sungguh mau belajar menumbuhkan pola pikir ini dan menunjukkan proses belajarnya kepada para murid, niscaya para murid pun akan lebih bersemangat dan menghargai guru, karena setiap orang berproses, setiap orang berusaha, dan tidak pernah berhenti belajar.

Baca Juga: Persaingan Ketat di CPNS 2026, Ini Strategi, Jadwal, dan Formasi Paling Diminati Biar Peluang Lolos Makin Besar

Self-Talk

Salah satu cara mudah untuk menumbuhkan sifat-sifat pola pikir bertumbuh dan menekan pola pikir tetap yang kerap kali datang dan mengganggu proses belajar adalah dengan selalu melakukan self-talk –berbicara dengan diri sendiri. Penelitian yang dilakukan Safitri dkk pada 2024 mengenai pengaruh self-talk positif dan motivasi berprestasi atlet menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Atlet yang sering melakukan self-talk positif kepada dirinya sendiri dapat meningkatkan motivasi performanya untuk berprestasi.

Dalam agama Islam pun diajarkan bahwa kita dianjurkan untuk selalu berprasangka baik (husnuzan) kepada segala ketetapan Allah SWT, hal ini nantinya akan memantik rasa syukur dan mendorong seseorang untuk selalu melakukan kebaikan dan meningkatkan ketakwaannya. Saat kita berbicara yang baik dan terus memotivasi diri, maka hal tersebut akan terjadi. Demikian pula sebaliknya, bila hal buruk dan negatif yang kita katakan pada diri sendiri, maka hal itu pula akan terjadi pada diri kita.

Cara kita berbicara kepada diri sendiri saat menghadapi rintangan dan hambatan akan memengaruhi bagaimana cara kita mengambil keputusan. Perhatikan kalimat-kalimat berikut ”Murid yang satu ini memang tidak punya bakat matematika”, ”Cara mengajar yang seperti apa ya yang dapat saya lakukan untuk membantu murid ini agar mengerti konsep matematika ini”, ”Tentu saja dia dipilih menjadi kepala sekolah, dia memang penjilat”, ”Wah, saya harus belajar darinya, bagaimana cara kepemimpinan dan pengalamannya sehingga bisa mendapatkan promosi jabatan”, ”Orang tua ini membuat saya gila. Setiap hari dia meminta laporan perkembangan belajar anaknya”, ”Orang tua ini sangat perhatian. Saya harus menemukan cara agar dapat berkomunikasi secara produktif dengannya”. Bagaimana? Apa yang Anda rasakan saat membaca kalimat-kalimat tersebut? Ada beberapa kalimat yang saat dibaca akan membawa perasaan negatif dan pola pikir tetap saat membacanya. Ada pula beberapa kalimat yang membawa perasaan positif dan mengembangkan pola pikir bertumbuh saat membacanya. Silakan Anda nilai sendiri.

Kalimat mana yang Anda pilih untuk diutarakan pada diri sendiri akan berpengaruh terhadap pola pikir dan tindakan yang akan Anda ambil. Saat pola pikir tetap mulai muncul dan menghambat proses belajar Anda, daripada pasrah dan mengatakan ”Saya tidak bisa melakukannya” lebih baik diubah menjadi ”Saya tidak bisa melakukannya, tetapi …” atau ”Saya belum bisa melakukannya”, kalimat ini menyiratkan bahwa Anda belum menyerah dan masih ingin berusaha dan berkembang.

Terakhir, saya ingin mengajak kita bersama sebagai guru untuk berefleksi. Melihat dan merenungi kembali bagaimana cara kita belajar dan mengajar selama ini di ruang kelas. Alih-alih hanya mentransfer ilmu pengetahuan, guru memiliki peran besar dalam mendidik dan membentuk kepribadian.

Melalui tutur kata, tingkah laku, kejujuran, ketulusan guru untuk sama-sama bertumbuh di ruang kelas, lambat laun akan menular kepada murid dan menjadi semangat pada diri mereka bahwa tidak ada orang yang sempurna, semua orang pernah melakukan kesalahan, kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran. Orang yang hebat bukanlah orang yang selalu menang, namun orang hebat adalah orang yang mau bangkit dan belajar dari kegagalan. Melalui pengembangan pola pikir bertumbuh ini diharapkan 10 hingga 20 tahun mendatang akan tumbuh generasi emas yang penuh semangat untuk berkarya, berinovasi, generasi yang kritis dan tidak takut untuk gagal. Semoga dan semoga. (*)

 

Berkali Kita Gagal

Berkali kita gagal

Ulangi lagi dan cari akal

Berkali-kali kita jatuh

Kembali berdiri jangan mengeluh

-O.R Madank, 1930

 

GEMALA QURBANI

Guru di SDN Pademawu Barat 1

Editor : Hera Marylia Damayanti
#guru #guru menjadi teladan #Ketulusan #Pola pikir tetap #Pola Pikir Bertumbuh #growth mindset #Fleksibilitas guru