Oleh YUITA TRI NOVIANA, S.Pd.SD.
PENDIDIKAN merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban dan menentukan arah masa depan suatu bangsa. Tanpa pendidikan yang baik, mustahil suatu negara dapat bersaing di era globalisasi yang semakin kompetitif ini. Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan nasional.
Pendidikan yang ada di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Seharusnya pendidikan merupakan landasan yang harus diprioritaskan, tetapi saat ini pendidikan seolah-olah menjadi celah dalam rusaknya generasi penerus bangsa. Di Indonesia masih banyak tantangan dalam dunia pendidikan. Ketimpangan akses antara daerah perkotaan dan pedesaan, kualitas guru yang belum merata, serta keterbatasan sarana dan prasarana menjadi hambatan yang harus segera diatasi. Pemerintah memang telah melakukan berbagai upaya seperti program Wajib Belajar 12 Tahun, bantuan beasiswa, dan pengembangan kurikulum, namun implementasi di lapangan masih memerlukan perhatian serius.
Pendidikan tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar mengajar di sekolah, tetapi mencakup proses pembelajaran seumur hidup yang dimulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Melalui pendidikan, seseorang tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membangun karakter, etika, dan tanggung jawab sosial. Di era globalisasi saat ini, pendidikan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan zaman dan menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
Kini di tengah kemajuan zaman dan teknologi yang serbadigital, tantangan yang dihadapi di dunia pendidikan akan makin kompleks. Tantangan moral dan krisis akhlak pada generasi muda kian terasa mendalam. Anak-anak dengan mudahnya mencari informasi melalui media internet, membuat mereka semakin nyaman berada pada dunia digital. Dari kemudahan yang didapatkan tersebut, banyak dari mereka yang kehilangan interaksi dengan teman, kurangnya empati, hilangnya rasa disiplin dan tanggung jawab, bahkan sampai lupa akan kejujuran.
Teknologi seharusnya menjadi alat bantu dalam pembelajaran, bukan malah menjauhkan siswa dari esensi belajar yang sesungguhnya. Oleh karena itu, integrasi teknologi dalam pendidikan perlu diarahkan dengan bijak dan strategis, agar dapat mendukung proses pembelajaran yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan.
Di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi yang begitu pesat, generasi muda sekarang mengalami tantangan moral yang begitu berat yaitu krisis akhlak. Oleh karena itu, pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat. Pendidikan karakter adalah kunci utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas.
Di era digital ini, pendidikan karakter harus mampu menjawab tantangan zaman. Anak-anak semakin leluasa menggunakan internet. Informasi yang begitu luas dan cepat dapat mereka akses dengan mudah, bahkan bebas tersebar di media sosial. Oleh karena itu, anak-anak lebih mudah terpapar pengaruh negatif dari internet. Untuk mencegah hal tersebut, dibutuhkan dukungan dan kerja sama yang kuat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk selalu menanamkan pendidikan karakter pada anak supaya lebih bisa mengontrol diri, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Ketika prestasi hanya diukur dengan angka, nilai ujian, deretan prestasi akademik, dan moral semakin jauh tertinggal, maka pendidikan karakter bukan hanya menjadi pilihan, tapi merupakan suatu keharusan sebagai inti hakikat belajar. Pendidikan karakter bukan hanya mengajarkan anak tentang jujur, sopan, disiplin dan tanggung jawab, akan tetapi sebuah pembelajaran bermakna yang akan menjadi pengalaman seumur hidup.
Pendidikan karakter tidak terbentuk secara instan dan tiba-tiba, tetapi ditanam melalui keteladanan dan dibentuk melalui kebiasaan sehingga akan menjadi sebuah kesadaran yang lahir dari hati. Membentuk karakter seperti menaman benih, harus dirawat dengan baik. Disiram air setiap hari, diberikan pupuk secara berkala, dan menjaganya dari hama yang akan merusak tanaman tersebut. Itu semua membutuhkan waktu, kesabaran, dan juga perhatian. Jika benih tersebut sudah tumbuh menjadi pohon yang besar, maka akan menjadi pohon yang dapat mengayomi dan memberikan manfaat bagi sesama.
Baca Juga: Sampai Kapan Ganti Menteri, Ganti Kurikulum?
Pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui teori dan ceramah, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak. Pembentukan karakter tidak hanya dilakukan pada mata pelajaran tertentu, tetapi melalui pembiasaan kegiatan budaya positif di sekolah, keteladanan guru, serta kegiatan-kegiatan yang mendorong pembentukan pendidikan karakter. Ketika siswa diajak berdiskusi dan bekerja sama saat mengerjakan tugas, bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan, menjunjung kejujuran saat melaksanakan ujian, berempati kepada teman, mereka sebenarnya sedang menjalani pembentukan karakter.
Namun, pendidikan karakter tidak akan berhasil tanpa dukungan dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang nilai-nilai moral. Keluarga merupakan sekolah pertama dan utama, tempat anak belajar nilai-nilai dasar seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kerja keras. Keteladanan orang tua dalam bersikap dan bertutur kata akan menjadi contoh nyata yang melekat kuat dalam diri anak. Sementara masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan akan menjadi ruang aktualisasi yang sehat bagi tumbuh kembang karakter anak. Kerja sama yang sinergis antara keluarga, sekolah, dan masyarakat akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Pendidikan dan pendidikan karakter adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Pendidikan tanpa karakter akan melahirkan individu cerdas yang berpotensi menyalahgunakan ilmunya. Sebaliknya, karakter tanpa ilmu akan kehilangan arah di tengah tantangan zaman. Oleh karena itu, sinergi keduanya sangat penting untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berdaya saing tinggi, bermoral, dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang gemilang. (*)
*)Guru SDN Lawangan Daya 2, Pademawu
Editor : Hera Marylia Damayanti