SUMENEP, RadarMadura.id – Ratusan guru bahasa Madura mengikuti pendidikan dan pelatihan di Sumenep. Pelatihan bertajuk optimalisasi penguatan kapasitas guru bahasa daerah dalam pembelajaran kurikulum merdeka itu dihelat selama tiga hari sejak Selasa (11/6).
Peserta diklat disuguhi materi tentang carakan dan sastra Madura. Materi ini disampaikan oleh Sunarjo. Kemudian dilanjutkan materi ondhagga basa oleh Abd. Aziz.
Hari kedua Harwiyanto mendedahkan materi seputar penyusunan modul ajar. Lalu dilanjutkan dengan materi bahan ajar dalam pembelajaran bahasa daerah. Materi ini disampaikan oleh dosen Universitas Negeri Semarang Joko Sukoyo secara daring.
Selanjutnya, materi seputar sejarah dan budaya Madura disampaikan oleh Tadjul Arifien R. Materi pemungkas tentang pengembangan literasi bahasa Madura. Materi ini disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Lukman Hakim AG.
Pada kesempatan itu, Lukman mengungkapkan bahwa pelestarian bahasa Madura butuh peran semua pihak. Mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, pemerintah, komunitas, pemilik modal, dan lain-lain.
Banyak upaya yang bisa dilakukan. Antara lain, meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri agar manusia Madura bangga berbahasa Madura. Lalu, membiasakan bahasa Madura, baik lisan maupun tulis. Termasuk dalam berkomunikasi dan berselancar di dunia maya atau media sosial (medsos).
Lalu, menyemarakkan publikasi melalui berbagai jenis media. Bisa berupa majalah dinding (mading), buletin, majalah, dan buku. Bisa juga dipublikasikan ke media massa atau laman internet milik sekolah. ”Manfaatkan semua perangkat dan media,” katanya.
Lukman menambahkan, event berupa lomba, sayembara, seleksi naskah, dan lain-lain perlu terus disemarakkan. Dia juga mengingatkan agar tidak melupakan apresiasi atau penghargaan.
Dalam hal bahasa dan sastra Madura, Pemkab Sumenep pernah memberikan penghargaan kepada salah seorang tokoh pelestari bahasa Madura. ”Kalau tidak salah dalam event Sumenep Awards. Tapi, itu hanya sekali. Setelah itu tak ada lagi,” katanya.
Dia berharap, kegiatan dan penghargaan terkait pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Madura ditingkatkan. ”Yang tak kalah penting harus tahu diri. Kalau tidak tahu sebaiknya tanya kepada yang tahu. Jangan asal membuat media luar ruang dengan bahasa Madura yang tulisannya salah,” ujarnya.
Kabid Pembinaan SMP Dispendik Sumenep Mohammad Fajar Hidayat mengucapkan terima kasih kepada panitia dan peserta. Dia berharap ilmu yang disampaikan narasumber dapat meningkatkan kapasitas guru dalam mendidik.
”Bahasa Madura itu perlu pembiasaan. Kalau tidak dipraktikkan tidak lancar,” katanya dalam sambutan penutupan acara yang diikuti peserta dari musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) basa Madura itu. (luq)
Editor : Ina Herdiyana