Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Penguasaan Empat Bahasa Asing Jadi Unggulan Ponpes Syekh Abdurrahman Rabah

Berta SL Danafia • Rabu, 3 April 2024 | 15:30 WIB
PROGRESIF: K. Abdul Hamid Rabah (kemeja putih) menyampaikan sambutan dalam kegiatan Jumat Curhat Bersama Kapolres Pamekasan di Ponpes Syekh Abdurrahman Rabah. (K. ABDUL HAMID RABAH UNTUK JPRM)
PROGRESIF: K. Abdul Hamid Rabah (kemeja putih) menyampaikan sambutan dalam kegiatan Jumat Curhat Bersama Kapolres Pamekasan di Ponpes Syekh Abdurrahman Rabah. (K. ABDUL HAMID RABAH UNTUK JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Ponpes Syekh Abdurrahman Rabah memiliki kisah panjang dan berkaitan dengan K. Agung Abdurrahman alias Kiai Agung Rabah.

Konon, ponpes yang berlokasi di Desa Sumedangan, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, tersebut dulunya adalah hutan belantara.

Orang pertama yang mendiami lokasi ponpes tersebut adalah K. Agung Rabah.

Kewalian K. Agung Rabah diketahui oleh raja Islam pertama di Pamekasan, yaitu Ronggosukowati. Banyak tokoh yang tercatat pernah menjadi santri K. Agung Rabah.

Antara lain, K. Abdullah Batuampar Timur, K. Abdul Qidam, K. Lembung, K. Torjun (buju’ Torjun), buju’ K. Ageng Bersila, dan lain-lain.

Namun K. Agung Rabah tidak memiliki anak. Jadi, pimpinan pesantren diganti oleh keponakannya, K. Adil (K. Rabah II). Dia merupakan putra K. Abdul Qidam dan Dewi Asri.

”Kemudian, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh K. Arham (K. Rabah III), K. Isnad (K. Rabah IV), K. Hosen (K. Rabah V), dan K. Samaun (K. Rabah VI),” ucap K. Hamid.

”Kemudian K. Abdul Wahab (K. Rabah VII), K. Ahmad Madani (K. Rabah VIII) dan saya diberi kepercayaan untuk melanjutkan kepemimpinan beliau-beliau,” imbuhnya.

Pria yang juga K. Rabah IX itu mulai menakhodai Ponpes Syekh Abdurrahman Rabah pada 2015.

Salah satu terobosannya yaitu menghadirkan sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, mendirikan madrasah aliyah (MA) dan madrasah tsanawiyah (MTs).

Ponpes Syekh Abdurrahman Rabah melaksanakan program pondok gratis, tetapi dengan kualitas pendidikan yang tidak kalah bersaing.

Salah satu unggulannya yaitu penguasaan empat bahasa asing. Yakni, bahasa Mandarin, Inggris, Arab, dan Korea.

”Para santri sangat antusias dengan adanya program ini. Buktinya, ada santri yang lulus TOEFL internasional HSK dan HSKK4 yang sertifikatnya langsung dari Tiongkok,” jelasnya.

”Kemudian, bahasa Korea juga ada yang mendapatkan TOEFL internasional dari perguruan tinggi,” terangnya.

Kiai Hamid juga melatih santrinya di bidang entrepreneur. Yaitu, budi daya lele segar siap goreng.

”Kami hanya ingin mempertanggungjawabkan amanah yang sudah diembankan kepada kami. Santri kami harus bisa bersaing di era modernisasi ini,” ujarnya. (ail/jup)

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Berta SL Danafia
#ponpes #abdurrahman #Syekh