PAMEKASAN, RadarMadura.id – Abdul Hamid besar dan tumbuh dari lingkungan pondok pesantren (ponpes).
Sebab, ayahandanya, K. Ahmad Madani, merupakan pengasuh Ponpes Syekh Abdurrahman Rabah.
Tidak heran jika sejak duduk di bangku kelas V SD, Abdul Hamid sudah diharuskan mengaji kitab di ponpes agar tidak terjun terlalu dalam ke dunia luar.
Namun, dia tetap diperkenankan bermain dengan temannya. ”Seperti bermain petak umpet dan bola,” ucap pria yang biasa disapa Kiai Hamid tersebut.
Kiai Hamid tercatat menamatkan pendidikan sekolah dasarnya di SDN Murtajih 2.
Kemudian, dia melanjutkan studi di MTsN Pademawu dan SMAN 2 Pamekasan. Sedangkan gelar sarjananya didapat dari IAI Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.
Pria kelahiran 1977 tersebut merupakan sosok penulis buku berjudul Kiai Agung Rabah.
Buku berwana biru tersebut mengupas silsilah dan sejarah dari keluarganya sendiri yang merupakan keturunan Kiai Agung Rabah.
Ada beberapa alasan yang mendasari Kiai Hamid menulis silsilah keluarganya dalam karya buku.
Salah satunya, ingin memotivasi kaum muda untuk tidak apatis terhadap runtutan sesepuhnya karena khawatir tidak punya fondasi yang kuat.
”Miris sekali ketika anak muda mengaku tidak tahu tentang sesepuhnya,” ujarnya.
Kiai Hamid menyampaikan, tidak mudah untuk mengabadikan silsilah keluarga dalam sebuah karya buku.
Namun jika dilandaskan pada rasa suka saat menulis, kesannya yaitu bagaikan menyusun puzzle yang berserakan.
”Karena dipaksa mundur dalam sekian ratus tahun yang lalu,” imbuhnya.
Waktu yang dibutuhkan untuk menulis buku tentang sesepuhnya tidak sebentar.
Sebab, penelitian dan napak tilas yang dilakukan bukan hanya di Pamekasan, melainkan juga di Sumenep dan Sampang.
K. Abdul Hamid mengaku mendapat kepuasan tersendiri setelah mampu menulis sejarah dan silsilah keluarganya.
Yaitu, merasa tidak pernah bosan. Dia berharap, karya tersebut bermanfaat untuk generasi penerusnya.
Sejauh ini, Kiai Hamid mengaku belum membiasakan santrinya untuk menulis aktivitas dan kegiatannya di pesantren setiap hari.
Sebab, setiap santri memiliki talenta berbeda-beda. Namun, tidak menutup kemungkinan, dia akan semakin memperhatikan literasi santri.
”Sementara mau mengenalkan (literasi) saja dulu agar mereka suka,” tukasnya. (ail/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia