SUMENEP, RadarMadura.id – Usia Shofiyatul Ummah baru 27 tahun. Namun, aktivitas perempuan asal Desa/Kecamatan Ganding, Sumenep, tersebut cukup padat.
Selain menjadi dosen, perempuan berhijab itu juga menjadi penceramah, penulis, serta pemateri dalam berbagai kegiatan online dan offline.
Perempuan kelahiran 1997 tersebut sejak belia didoktrin orang tuanya untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Sebab, pendidikan sangat penting dan dibutuhkan kaum hawa dalam menambah pengetahuan dan memperluas wawasan.
Shofiyatul Ummah pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Lirboyo, Kediri. Dia tercatat sebagai alumnus STAI Nurud Dhalam.
Kemudian pada 2018, Shofiyatul Ummah kembali menempuh pendidikan S-1di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Lalu, melanjutkan program studi magister di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.
Perempuan yang biasa disapa Neng Shofi itu pernah mendapat kepercayaan menjadi asisten dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih Syekh Nawawi Tanara Banten.
Kepercayaan tersebut didapatkan sejak duduk di bangku semester lima ketika menempuh pendidikan S-1.
Setelah menamatkan program pascasarjana, Neng Shofi diangkat sebagai dosen di kampusnya mengajar. Dia menjadi pengampu mata kuliah hukum ekonomi syariah dan hukum KI.
Selain itu, menjadi pengajar dan penasihat di pondok pesantrennya, yaitu Nurud Dhalam.
Aktivitasnya saat ini lebih banyak mengajar, baik secara formal maupun nonformal. Mulai dari kajian kitab dan sebagainya.
”Kalau mengajar formalnya iya menjadi dosen,” tuturnya.
Neng Shofi mengaku, kampus tempatnya mengajar cukup jauh karena berada di Banten. Sementara dirinya lebih sering berada di Kota Keris.
Jadi, pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan sistem daring. ”Kalau ada momen penting, baru saya berangkat ke Banten,” sambungnya.
Selain menjadi dosen, dia sering mengisi ceramah di berbagai undangan. Misalnya, maulid nabi, ulang tahun, akikah, dan lain-lain.
Ceramah yang disampaikan biasanya berkenaan dengan peran sosok perempuan. Kemudian, tentang haid dan istihadah.
”Ceramah kebanyakan masih di seputaran Sumenep,” terangnya.
”Saya juga aktif mengisi seminar di berbagai ponpes di Sumenep. Kalau seminar online pernah di Universitas Negeri Jember dan UIN Jakarta,” imbuhnya.
Neng Shofi menambahkan, sebenarnya dirinya tidak pernah meminta menjadi seorang dosen.
Namun, ketertarikannya terhadap dunia pendidikan yang mengantarkan dirinya menjadi tenaga pengajar.
”Sejak mondok itu diberitahukan bahwa pendidikan itu penting. Karena nanti ilmu akan berguna,” jelasnya.
”Saya terus diberi motivasi dan cerita-cerita sejak kecil tentang perlunya pendidikan. Akhirnya, saya konsen bagaimana caranya tidak putus sekolah,” sambungnya.
Neng Shofi berpesan kepada para kaum hawa agar tetap semangat belajar serta jangan merasa tidak berdaya.
”Perempuan itu bisa melakukan banyak hal. Hanya, mereka terlalu merasa rendah diri terhadap apa yang mereka lakukan, selalu melihat dirinya sebagai orang kecil dan remeh serta tidak penting,” pesannya.
Seorang perempuan harus bisa membangun kepercayaan diri masing-masing. Termasuk terus mengembangkan kemampuan dengan baik.
Sebab, setiap diri perempuan pasti memiliki kemampuan yang bisa dikembangkan.
”Kuncinya harus dengan cara belajar dan menimba ilmu, baik dengan cara formal maupun nonformal,” katanya.
”Karena ilmulah nanti yang akan menuntun kita. Ilmu juga akan membuat kita berdaya, baik secara psikologis maupun ekonomi,” tambahnya. (iqb/jup)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia