SUMENEP, RadarMadura.id – MTs Miftahul Ulum didirikan oleh para masyayikh yang peduli pentingnya kemajuan pendidikan.
Para masyayikh visioner tersebut di antaranya KH Thoha Mayshur (alm), KH Said Yusuf (alm), dan KH Fauzi Hasbullah.
Kiai Mahally Thoha selaku wakil kepala madrasah bagian kesiswaan menjelaskan, MTs Miftahul Ulum adalah lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Miftahul Ulum (Yasmu).
Yayasan ini mengelola pesantren-pesantren yang berkontribusi terhadap santri atau siswa-siswi MTs Miftahul Ulum.
Di antaranya, PP Dlau’ul Ulum Po’tompo’, PP Al-Jalaly Dhaja Songay, dan PP Nurul Ikhlas Serangan. Yasmu berdiri di Desa Tambaagung Ares, Kecamatan Ambunten, Sumenep.
”Jadi, MTs Miftahul Ulum ini sebagai pusat belajar santri dari tiga pesantren tersebut,” ujarnya.
Dia menjelaskan, nama Miftahul Ulum merupakan ”tabarrukan” atau mengambil barokah dari Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan.
Yaitu, salah satu pondok tertua di Indonesia dan almamater pendiri MTs Miftahul Ulum.
MTs Miftahul Ulum yang berada di tengah-tengah pesantren Islam salafi juga menerapkan sistem pendidikan pesantren salaf.
Misalnya, pemisahan kelas putra dan putri di samping program-program unggulan pesantren lainnya.
Menurut dia, pendidikan formal sangat penting didirikan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik secara holistik.
Yaitu, meliputi aspek intelektual, emosional, spiritual, sosial, dan fisik.
Madrasah juga berkontribusi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperkuat karakter bangsa yang religius, toleran, dan moderat.
”Dengan pendidikan formal ini, kami berharap para siswa juga bisa belajar berbagai disiplin keilmuan yang selaras dengan perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan ilmu-ilmu keagamaan,” ujar pria yang pernah nyantri di PP Darul Ulum Jombang itu. (sin/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia