PAMEKASAN, RadarMadura.id – Bencana kekeringan di Pamekasan belum menunjukkan tanda segera berakhir. Sebaliknya, jumlah warga terdampak berpotensi bertambah karena musim hujan diprediksi baru mulai pada Desember.
Prediksi itu merujuk rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Trunojoyo terkait awal musim hujan 2026/2027 di Pamekasan. Musim kemarau yang masih panjang membuat kebutuhan air bersih diperkirakan tetap tinggi.
Untuk bagian selatan Pamekasan dan Sumenep, awal musim hujan diprediksi masuk dasarian II Desember. Sementara bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep diprediksi baru memasuki musim hujan pada dasarian III Desember.
Kalaksa BPBD Pamekasan Akhmad Dhofir Rosid mengatakan, titik kekeringan yang telah dipetakan belum bisa dianggap sebagai angka final. Perubahan kondisi cuaca dan panjangnya musim kemarau masih memungkinkan munculnya titik kekeringan baru.
”Untuk tahun ini, titik kekeringan tersebar di 281 dusun di 82 desa yang tersebar di 11 kecamatan,” kata Dhofir.
Menurut dia, kekeringan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, kekeringan tercatat melanda 231 dusun di 76 desa yang tersebar di 11 kecamatan.
Dengan demikian, terdapat tambahan 50 dusun dan enam desa yang masuk wilayah terdampak. Dari 281 dusun tersebut, 211 dusun masuk kategori kering langka dan 70 dusun lainnya tergolong kering kritis.
Potensi meluasnya kekeringan juga mulai dirasakan di wilayah yang sebelumnya relatif aman. Hafi, warga Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, menyatakan, debit air di sejumlah sumur warga mulai menyusut.
”Dampak kekeringan sudah mulai terasa. Sumur-sumur warga kian menyusut,” ujar Hafi kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).
Meski demikian, persediaan air di sumur warga masih relatif cukup untuk kebutuhan dasar. Air masih bisa digunakan untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Namun, kondisi tersebut bisa berubah apabila hujan belum juga turun. Jika kekeringan mulai melanda wilayahnya, jumlah warga yang membutuhkan pasokan air bersih berpotensi ikut bertambah.
BPBD bersama instansi lain telah melakukan distribusi air bersih untuk mengantisipasi dampak tersebut. Penyaluran melibatkan sejumlah pihak, termasuk Dinas Sosial dan PDAM Pamekasan.
Selain dropping air, pemerintah juga menyiapkan pengeboran sebagai langkah jangka panjang. Program tersebut merupakan kerja sama Pemkab Pamekasan dengan pemerintah pusat melalui kegiatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat.
Namun, panjangnya masa tunggu menuju musim hujan membuat ancaman kekeringan belum bisa dianggap selesai. Terlebih, BMKG memprediksi awal musim hujan di Pamekasan baru terjadi dua bulan lagi. (afg/yan)
Editor : Amin Bashiri