PAMEKASAN, RadarMadura.id – Serapan garam rakyat di Kabupaten Pamekasan terbilang masih minim. Itu terlihat dari serapan garam di tiga kecamatan penghasil.
Dari total produksi 20.217 ton, yang terserap barum 54 persen atau sekitar 10.907 ton.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Pamekasan, Abdul Fata menyebut data tersebut berdasarkan laporan petugas statistik garam rakyat per Agustus 2026. Mencakup produksi di tiga kecamatan, yakni Galis, Pademawu, dan Tlanakan.
”Stok sesuai laporan petugas statistik garam rakyat 9.310 ton, dari jumlah produksi 20.217 ton di tiga kecamatan,” ungkap Fatat.
Dia menjelaskan, angka-angka tersebut merupakan selisih antara produksi dan stok berdasarkan laporan statistik.
Artinya bukan data pembelian yang dihimpun dari seluruh perusahaan yang menyerap garam.
”Dinas Perikanan tidak memiliki akses untuk mengetahui data serapan garam rakyat dari masing-masing perusahaan tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, Kecamatan Galis menjadi wilayah dengan stok garam terbesar, yakni 5.632 ton dan di Kecamatan Pademawu tercatat 3.678 ton.
Adapun produksi di Kecamatan Tlanakan mencapai 220 ton dan dalam laporan tersebut tidak tercatat stok garam.
”Produksi yang tercatat terdiri dari 9.844 ton di Galis, 10.153 ton di Pademawu, dan 220 ton di Tlanakan,” sebutnya.
Sekretaris Komisi II DPRD Pamekasan Moh. Faridi mendorong pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap potensi lokal sektor garam.
Pengembangan perlu didukung melalui intervensi anggaran, terutama untuk meningkatkan produksi.
Di samping itu, legislator PKB itu menyoroti belum terlihatnya intervensi pemkab dalam peningkatan produksi garam.
Sebab, bantuan sarana dan prasarana (sarpras) bagi petani masih bergantung pada pemerintah provinsi dan pusat.
”Memang banyak potensi lokal yang bisa dikembangkan, salah satunya garam yang menjadi visi-misi bupati,” pesannya. (lil/bil)
Editor : Amin Bashiri