Lambaian Tangan Almarhum Jadi Komunikasi Terakhir bagi Anak Istri

Amin Bashiri • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 08:23 WIB
SUASANA DUKA: Azimatul Munirah, istri Nurul Rian Hidayat bersama anaknya berada di dekat peti mati suaminya yang baru tiba di rumah duka di Desa Teja Timur, Pamekasan, Rabu (16/9).
SUASANA DUKA: Azimatul Munirah, istri Nurul Rian Hidayat bersama anaknya berada di dekat peti mati suaminya yang baru tiba di rumah duka di Desa Teja Timur, Pamekasan, Rabu (16/9).

 

PAMEKASAN, RadarMadura.id - Tidak ada yang menyangka lambaian tangan Nurul Rian Hidayat, korban KM Virgo Transport 8 yang tenggelam, menjadi komunikasi terakhir yang membekas bagi keluarga. Dia gugur saat bertugas sebagai tenaga medis dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9).

Isak tangis pecah saat jenazah Nurul Rian Hidayat, 33, Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8, tiba di rumah duka di Desa Teja Timur, Pamekasan, Rabu (16/9) sekitar pukul 10.56.

Rian merupakan salah satu korban kecelakaan setelah kapal tempatnya bekerja terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, Minggu (13/9) dini hari.

Suasana haru seketika menyelimuti halaman rumah. Keluarga dan kerabat yang sejak pagi menanti kedatangan Rian tak kuasa menahan kesedihan saat peti jenazah diturunkan dari mobil ambulans Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bernopol W 1632 WE. Tangis pecah di antara keluarga yang berusaha mendekat dan menyambut kepulangan Rian untuk terakhir kalinya.

Setibanya di rumah duka, di Desa Teja Timur, Pamekasan, jenazah terlebih dahulu disalatkan di masjid setempat. Setelah itu, Rian dibawa ke rumah untuk disemayamkan sembari menunggu prosesi pemakaman. Doa terus dipanjatkan mengiringi keluarga yang berdiri di sekitar peti jenazah.

Tangisan paling memilukan terdengar dari istri korban, Azimatul Munirah. Perempuan yang tengah mengandung tujuh bulan itu tak kuasa menahan kesedihan saat melihat peti jenazah suaminya diturunkan dari ambulans. Dengan suara bergetar, dia berkali-kali memanggil suaminya.

”Ayah... Ayah... Ayah,” teriak Nining, sapaan akrabnya, di tengah suasana duka.

Tidak hanya saat peti jenazah diturunkan dari ambulans, suasana haru kembali pecah ketika Rian telah berada di rumah duka setelah disalatkan. Nining berulang kali mencium peti jenazah suaminya. Dia kemudian menunjukkan Arin, anak mereka yang masih berusia 17 bulan, seolah ingin mempertemukan keduanya untuk terakhir kalinya.

”Ayah bobok, Nak,” katanya sambil menangis dan kembali mencium peti jenazah suaminya. Sementara itu, ratusan orang telah memadati rumah duka sejak sekitar pukul 06.00. Kerabat dan tetangga datang untuk menyambut kepulangan Rian, termasuk Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman bersama sejumlah pejabat lainnya.

Nurhidayati Rahmah menyebut, adik iparnya telah bekerja sekitar tiga hingga empat bulan sebagai tim medis di KM Virgo Transport 8. Sebelumnya, Rian memang telah bekerja di dunia pelayaran sejak sebelum menikah dengan adiknya, Nining.

Sebelum musibah terjadi, almarhum sempat melakukan panggilan video bersama anak dan istrinya sekitar pukul 12.00, Sabtu (12/9). Namun, selepas pukul 01.00, Minggu (13/9), komunikasi terputus. Saat melakukan video call, Rian berada di tempat istirahat. ”Tidak biasanya, kata istrinya, korban melambaikan tangan. Tidak disangka itu komunikasi terakhir,” tutur Yatik.

Pihak keluarga baru mendapat kabar duka mengenai tenggelamnya kapal sekitar pukul 04.30 dari adik korban melalui rekan sejawat Rian. ”Adiknya Rian itu dikasih tahu sama temannya Rian yang belum berangkat tugas pelayaran,” sebutnya.

Menurutnya, Rian sempat pulang saat mendapat jatah cuti selama satu minggu dalam sebulan. Seharusnya, Rian kembali pada Rabu (9/9). Namun, dia meminta tambahan waktu dua hari sehingga baru berangkat pada Jumat (11/9) sekitar pukul 08.00 WIB.

”Tidak ada firasat apa-apa. Cuma Rian berpesan kepada adik saya, istrinya, tidak usah banyak pikiran. Semua kebutuhan anaknya sudah dipenuhi selama satu bulan. Itu saja pesannya, tidak ada lagi,” sebutnya.

Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman yang hadir di rumah duka diminta keluarga besar untuk menjadi imam salat jenazah Rian. Selain itu, dia juga menyerahkan bantuan dari Pemkab Pamekasan kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian atas musibah tersebut.

”Ini merupakan hormat kami kepada keluarga korban, istrinya, orang tuanya, dan keluarga besarnya yang tabah dan sabar menghadapi musibah,” ujarnya.

Mantan anggota DPR RI itu mengaku pemerintah daerah mengikuti dan memantau perkembangan sejak menerima kabar KM Virgo Transport 8 yang menjadi tempat Rian bekerja mengalami kecelakaan. Dia berharap seluruh elemen pemerintah dan pihak manajemen memberikan perhatian serius terhadap musibah tersebut.

”Kami yakin, ini musibah yang baik, karena Rian gugur saat menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan. Insyaallah almarhum syahid dan mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah,” pungkasnya. (*/han)

Editor : Amin Bashiri
KM Virgo Transport 8 korban kecelakaan