PASEAN, RadarMadura.id – Ribuan kepala keluarga (KK) di berbagai daerah di Jawa Timur terdampak kekeringan. Pamekasan tercatat sebagai daerah dengan jumlah warga terdampak kekeringan paling banyak di Jawa Timur. Itu berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.
Disebutkan, sebanyak 24 kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat maupun tanggap darurat kekeringan. Dari puluhan wilayah itu, Pamekasan menjadi daerah dengan jumlah warga terdampak paling banyak, yakni mencapai 5.994 KK. Potensi kekeringan bisa meluas hingga 18.631 KK.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi mengatakan, kondisi kekeringan di Bumi Pamelingan memang semakin meluas. Hanya dua kecamatan yang berpotensi terbebas dari kekeringan.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, kekeringan hanya tercatat di 231 dusun pada 76 desa. Menurut dia, titik daerah kekeringan berpotensi bertambah apabila kemarau terus berlangsung.
”Untuk tahun ini, titik kekeringan tersebar di 281 dusun di 82 desa yang tersebar di 11 kecamatan,” kata Dhofir.
Dia mengungkapkan, dari 281 dusun tersebut, sebanyak 211 dusun masuk kategori kering langka. Sedangkan 70 dusun lainnya masuk kategori kering kritis. Tak heran jika dampak kekeringan kini dirasakan di sejumlah wilayah.
Warga Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Jaziri menyampaikan, kekeringan sudah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.
”Sudah sebulan terakhir (sumur pesantren, Red) memang sudah kering. Untuk memenuhi kebutuhan air para santri, pihak pesantren terpaksa membeli air bersih menggunakan tangki,” tukasnya. (afg/bil)
Editor : Amin Bashiri