PAMEKASAN, RadarMadura.id – Desa yang terdampak kekeringan di Pamekasan berpotensi semakin meluas.
Kondisi kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir membuat sejumlah wilayah mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Bahkan, beberapa daerah sudah memasuki fase kekeringan sejak tiga bulan terakhir.
Kondisi tersebut membuat persediaan air warga terus tergerus.
Baca Juga: Belum Ada Tersangka, Jaksa Pastikan Penyidikan Perkara Proyek Jalan Berlanjut
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan sebenarnya telah memetakan wilayah yang masuk titik kekeringan.
Namun, peta tersebut belum bisa dijadikan patokan akhir.
Kalaksa BPBD Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi mengatakan, titik kekeringan dapat berubah mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
Jika kemarau terus berlangsung, wilayah terdampak sangat mungkin meluas.
Artinya, daerah yang saat ini belum masuk peta kekeringan belum tentu aman sampai musim kemarau berakhir.
Terlebih, ketersediaan air di sejumlah sumur warga mulai menipis.
Baca Juga: Ari Ansori Siapkan Generasi Bangkalan Tembus Dunia Kerja Internasional
"Dibandingkan 2025, desa yang terdampak kekeringan tahun ini lebih banyak. Ada 281 dusun di 82 desa yang tersebar di 11 kecamatan. Tahun sebelumnya hanya 231 dusun di 76 desa," katanya.
Menurutnya, dari 281 dusun tersebut, sebanyak 211 dusun masuk kategori kering langka. Sementara 70 dusun lainnya tergolong kering kritis.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, pemerintah mendistribusikan air bersih sejak Senin (17/8).
Di sisi lain, kekhawatiran akan potensi kekeringan mulai dirasakan warga Desa Waru Barat, Kecamatan Waru.
Munirah, warga setempat, mengaku debit air di sumur miliknya terus berkurang.
Persediaan air di sumurnya kini tidak lagi sebanyak sebelumnya.
Jika kemarau panjang terus terjadi tanpa diselingi hujan, dia khawatir sumurnya benar-benar mengering.
"Kalau terus begini dan tidak ada hujan, dipastikan sumur saya akan kering," ujar Munirah.
Baca Juga: Puluhan Perempuan dan Anak Jadi Korban Kekerasan, Paling Banyak Kasus Tindak Asusila
Kekhawatiran itu semakin besar karena sumur miliknya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan keluarga.
Air dari sumur tersebut juga dimanfaatkan tetangga dan warga sekitar.
Oleh karena itu, Munirah mulai memikirkan kemungkinan terburuk.
"Jika sumur benar-benar kering, maka akan banyak juga yang terdampak," tuturnya.
Dia berharap pemerintah tidak menunggu sampai sumur warga benar-benar kering.
"Suplai air bersih diharapkan terus dilakukan agar bencana kekeringan di wilayah kami teratasi," harapnya. (afg/yan)
Editor : Hera Marylia