Sumur Kering, Warga Desa Larangan Tokol TIga Bulan Alami Krisis Air Bersih

Hera Marylia • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 05:45 WIB
TERIK: Sutiah menuang air bersih ke galon di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Minggu (6/9). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
TERIK: Sutiah menuang air bersih ke galon di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Minggu (6/9). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.idTerik matahari tak menyurutkan semangat Sutiah untuk mendapatkan air bersih.

Perempuan 56 tahun itu tak beranjak meski panas menyengat.

Dia begitu bersemangat sambil merapikan tumpukan galon kosong yang sudah dijejer sejak pagi. 

Wadah itu memang sengaja disiapkan untuk menampung air bersih yang didistribusikan Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) Minggu (6/9).

Wajah Sutiah tampak semringah ketika kendaraan tangki yang membawa air bersih tiba di lokasi.

Baca Juga: PMI Ilegal Tewas di Malaysia, Pasca Alami Kecelakaan Kerja

Bagi warga Desa Larangan Tokol, air tersebut seperti memperpanjang kehidupan.

Sutiah merasa lega karena kebutuhan air untuk keluarganya bisa terpenuhi dalam beberapa hari ke depan.

”Alhamdulillah datang air bersih,” ucapnya sambil tersenyum.

Bagi Sutiah, mendapat air bersih seperti menerima bantuan sosial.

Sebab, jika tidak ada distribusi air dari pemerintah atau instansi lainnya, dia harus membeli.

Satu tangki biasanya seharga Rp 100 ribu, dan harga ini kabarnya berpotensi naik.

Menurutnya, di Desa Larangan Tokol kekeringan sudah berlangsung sekitar tiga bulan. Sejumlah sumur warga tak lagi menyimpan air.

”Ya, sangat berarti untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan memasak,” katanya.

Setiap ada bantuan air, dia berupaya agar menghemat sehingga awet.

Baca Juga: Melek Finansial Sejak Dini, BRI Bekali Anak Muda dengan Tiga Mindset Penting!

Biasanya, sekali mendapat kiriman air bersih, persediaan itu bisa cukup sekitar sepekan.

Tapi, penggunaannya harus irit. Karena itu, Sutiah sering menegur anaknya jika boros air saat mandi.

Sutiah juga mengutamakan air untuk minum. Terkadang dia membeli air untuk konsumsi.

Tetapi, dia juga memasak air bantuan untuk diminum. Menurutnya, tidak ada pilihan lain bagi warga yang tengah krisis air bersih. 

Kondisi serupa juga dirasakan oleh warga Desa Larangan Tokol yang lain, Mai.

Ibu dua anak itu hanya bisa menunggu ketika bantuan air bersih datang. ”Di sini kering, tidak ada sumur bor,” ujarnya.

Sumber air yang selama ini menjadi andalan warga tak mampu memenuhi kebutuhan saat kemarau panjang.

Bantuan air bersih menjadi harapan bagi warga. Dalam sepekan, distribusi air terkadang datang hingga tiga kali.

Pengirimnya bergantian, baik dari Pemkab Pamekasan maupun pihak swasta lainnya.

Baca Juga: Resep Cumi Goreng Crispy dengan Sambal Limau Segar

Namun, bantuan tersebut belum membuat warga bisa bernapas panjang.

Kebutuhan air terus berjalan setiap hari, sementara kemarau belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Selain membutuhkan air bersih, warga juga berharap ada tempat penampungan air yang layak. (afg/bil)

Editor : Hera Marylia
tiga bulan bantuan air bersih kekeringan krisis air bersih Desa Larangan Tokol