PAMEKASAN, RadarMadura.id – Warga Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan, David Lesmana, 31, mengaku menemukan perubahan pada data desil yang tercantum dalam sistem.
Perubahan tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi ekonomi yang selama ini diketahuinya.
Menurut David, sebelumnya dia sempat melakukan pengecekan dan tercatat berada di desil 9.
Namun, saat kembali melakukan pengecekan, keterangan tersebut berubah menjadi desil 6–9.
"Saya tidak mengerti bagaimana mengakurasi datanya. Masak saya ada di desil 9, dengan pendapatan yang cuma UMK," keluhnya.
Selain David, hal serupa juga dialami Liya. Warga Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, tercatat berada di desil 9.
Dengan adanya perubahan sistem, saat ini tampilan yang tertera dalam pengecekan desil hanya menampilkan informasi desil 1–9.
"Masak iya saya ada di desil 9. Ini tentu sangat mengecewakan, karena benar-benar tidak sesuai dengan kondisi riil," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pamekasan Parsad Barkah Pamungkas menjelaskan, perubahan desil yang viral belakangan ini tidak berkaitan dengan pelaksanaan Sensus Ekonomi.
Sebab, pemutakhiran desil dilakukan secara berkala dan proses Sensus Ekonomi masih berlangsung.
Menurutnya, desil merupakan ukuran relatif yang membagi keluarga dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan.
Penentuannya tidak hanya berdasarkan pendapatan, tetapi menggunakan 39 indikator, di antaranya kondisi rumah, kepemilikan aset, serta pengeluaran listrik.
Dia menjelaskan, pemutakhiran desil dilakukan setiap tiga bulan dengan memanfaatkan berbagai sumber data.
Karena sifatnya relatif, posisi sebuah keluarga dapat berubah meski kondisi ekonominya tidak banyak mengalami perubahan.
"Misalnya, posisinya tetap, tetapi orang di sekelilingnya bertambah miskin. Jadi dia seolah-olah naik," jelasnya.
Parsad menyebut, data yang digunakan saat ini bersumber dari Regsosek, DTKS, dan P3KE.
Namun, sebagian besar data tersebut masih berasal dari 2022 dan pembaruannya dinilai masih minim.
"Karena itu, perubahan posisi desil bisa dipengaruhi oleh pembaruan maupun keterhubungan data dari berbagai sumber," tegasnya.
Parsad kembali menegaskan, sensus ekonomi yang sedang berlangsung tidak ada kaitannya dengan perubahan desil.
Kesamaan waktu pelaksanaan membuat masyarakat mengira keduanya saling berhubungan.
"Kalau untuk sensus ini belum, tidak ada kaitannya, karena sensus masih berjalan," pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Hera Marylia