PAMEKASAN, RadarMadura.id – Langkah Umayah, 58, tak selalu ringan. Di tengah musim kemarau, warga Dusun Tlanduh I, Desa Kertagena Laok, Kecamatan Kadur, itu harus membawa wadah dan berjalan menuju satu-satunya sumur yang masih menyimpan air.
Sumur itu menjadi tumpuan hidup warga. Bukan hanya bagi satu keluarga atau satu dusun. Saat sumber air lain mulai mengering, warga dari tiga dusun bergantung pada satu titik yang sama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Umayah, sejak pagi warga mulai berdatangan. Sebagian membawa jeriken, sebagian lainnya menenteng wadah air seadanya.
Mereka rela menempuh perjalanan cukup jauh, bahkan pulang-pergi dengan beban air yang harus dibawa menuju rumah masing-masing.
“Masyarakat dari tiga dusun mengambil air dari sumur ini. Hanya ini satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan di sini,” ujar Umayah.
Dia menuturkan, bagi warga Dusun Tlanduh I, II, dan III, perjalanan mencari air sudah menjadi rutinitas tahunan saat kemarau datang.
Jarak sekitar satu kilometer harus ditempuh untuk sekali perjalanan. Namun, perjuangan belum selesai setelah mereka tiba di lokasi.
Di sekitar sumur, warga harus mengantre. Satu per satu mereka menunggu giliran menimba air. Ketika jumlah warga yang datang semakin banyak, waktu tunggu pun menjadi semakin panjang.
“Setiap hari kami rela berjalan kaki untuk mengangkut air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Menurut Umayah, sumber air yang tersisa sangat terbatas. Sementara kebutuhan warga dari tiga dusun terus meningkat. Kondisi itu membuat antrean mengambil air bisa berlangsung cukup lama.
“Sumber mata air di daerah sini hanya satu. Jadi kami harus berbagi dengan masyarakat yang mengambil air. Antreannya bisa sampai satu hingga empat jam,” ungkapnya.
Debit air di dalam sumur yang selama ini menjadi andalan disebut terus mengalami penyusutan. Mereka khawatir, jika kemarau berlangsung lebih lama, satu-satunya sumber air itu tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga.
“Saya berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah untuk masyarakat di sini. Kondisi air sumur sudah menipis, sementara kebutuhan masyarakat meningkat selama musim kemarau,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Sri, warga Dusun Tlanduh II. Menurut dia, kesulitan mendapatkan air bersih bukan persoalan sehari dua hari. Kondisi tersebut sudah dirasakan warga selama hampir dua bulan terakhir.
“Kondisi seperti ini sudah berlangsung sekitar dua bulan. Kami berharap ada bantuan pengeboran sumber air untuk tiga dusun yang terdampak sebagai solusi jangka panjang,” tegas pria 62 tahun itu.
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan Akhmad Dhofir Rosidi mengklaim, saat proses verifikasi pihak desa hanya menyampaikan adanya satu dusun yang berpotensi mengalami kekeringan di Desa Kertagena Laok, yaitu Dusun Tlanduh I.
Namun demikian, pria berbadan tegap tersebut akan segera merespons keluhan warga terkait krisis air bersih. BPBD berjanji akan turun langsung ke lokasi untuk mengecek ketersediaan air bersih sekaligus penanganannya.
“Kalau ada wilayah yang memang membutuhkan bantuan air bersih, silakan kirim surat melalui pemerintah desa atau kecamatan. Pasti kami tindak lanjuti,” tegasnya. (lil/yan)
Editor : Amin Basiri