PAMEKASAN, RadarMadura.id – Pamekasan tidak hanya punya wisata pantai dan kuliner.
Di kawasan utara, terdapat Puncak Mahawaru yang menawarkan panorama alam dari ketinggian dengan suasana yang masih asri.
Destinasi wisata itu berada di Desa Waru Timur, Kecamatan Waru.
Tempat ini menjadi salah satu potensi wisata alam yang terselip di wilayah utara Bumi Gerbang Salam.
Secara geografis, Mahawaru berada di ketinggian sekitar 550 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Meski berada di kawasan perbukitan, pengunjung tidak perlu menyiapkan tenaga ekstra untuk mencapai puncaknya.
Jalur menuju puncak bisa ditempuh sekitar 5–10 menit.
Tracking singkat tersebut menjadi salah satu daya tarik Mahawaru bagi pengunjung yang ingin menikmati alam tanpa harus melakukan pendakian panjang.
Sesampainya di puncak, suguhan alam langsung tersaji di depan mata. Hamparan persawahan dan pedesaan di Kecamatan Waru terlihat dari atas.
Panorama tersebut menjadi magnet tersendiri. Apalagi saat cuaca cerah, bentang alam Waru terlihat lebih luas dan membuat pengunjung betah menikmati suasana.
Mahawaru juga punya momen yang layak diburu, yaitu sunrise.
Momentum tersebut menjadi salah satu waktu terbaik untuk datang karena pengunjung bisa menikmati kemunculan matahari dari balik bentang alam perbukitan.
Pendaki, Rizqa Nadhifah, menilai Mahawaru bisa menjadi salah satu opsi wisata bagi pencinta tracking.
Selain jalurnya relatif mudah, pemandangan dari puncak menjadi pengalaman yang sulit dilewatkan.
”Sudah banyak yang tracking ke sini meski belum dikelola secara profesional. Ketika sampai puncak, rasanya ingin berlama-lama karena pemandangannya indah,” katanya.
Menurut Rizqa, akses menuju puncak tidak terlalu sulit. Namun, pendaki tetap harus menyiapkan kondisi fisik meski durasi perjalanan relatif singkat.
”Waktu yang paling pas itu saat sunrise. Jalannya juga tidak terlalu ribet, tapi fisik tetap harus disiapkan,” kata perempuan yang juga seorang tenaga pendidik itu.
Potensi Mahawaru sejauh ini belum mendapat pengelolaan profesional dari pemerintah desa maupun Pemkab Pamekasan.
Tidak ada tarif khusus bagi pengunjung yang ingin menikmati panorama dari puncak.
Meski belum dikelola, Mahawaru mulai ramai dikunjungi. Warga sekitar, Rahman, mengatakan, pengunjung biasanya berdatangan pada akhir pekan dan hari libur.
”Kalau weekend atau hari libur bisa puluhan orang yang datang. Kalau hari biasa itu ya tidak banyak. Ada beberapa orang (pendaki, Red) biasanya,” katanya.
Rahman berharap semakin dikenalnya Mahawaru tidak membuat pengunjung mengabaikan etika.
Kebersihan dan ketertiban harus dijaga, termasuk menghormati norma yang berlaku di masyarakat sekitar.
Pengunjung juga diharapkan tidak menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma.
”Termasuk menghindari aktivitas berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang dapat memicu keresahan warga,” ucapnya.
Mahawaru memang belum memiliki fasilitas wisata seperti destinasi yang dikelola secara resmi.
Namun, kesederhanaan itu justru menjadi bagian dari daya tariknya: tracking singkat, udara terbuka, dan panorama pedesaan dari ketinggian. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti