Guru Honorer yang Memilih Merdeka lewat Ilmu

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 10:25 WIB

TELATEN: Fitriyah Agustiningrum memberikan materi kepada anak didik di rumahnya. (FITRIYAH AGUSTININGRUM UNTUK JPRM)

TELATEN: Fitriyah Agustiningrum memberikan materi kepada anak didik di rumahnya. (FITRIYAH AGUSTININGRUM UNTUK JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kemerdekaan bagi Fitriyah Agustiningrum bukan sekadar upacara atau pengibaran bendera.

Perempuan yang berprofesi sebagai guru honorer itu memaknai kemerdekaan dengan cara sederhana.

Yakni tetap bekerja, mengajar, dan memberi manfaat melalui ilmu.

Status honorer tak membuat langkah Fitriyah malas untuk mendidik.

Baca Juga: 81 Tahun Kemerdekaan, Kebutuhan Sarpras Sekolah Belum Terpenuhi, Siswa SDN Konang 4 Merasa Belum Merdeka karena Tak Punya Kelas Sendiri

Selepas mengajar di sekolah, dia kembali membuka buku dan mengajar anak-anak di teras rumahnya.

”Bagi saya, menjadi seorang guru bukan hanya soal pekerjaan. Ada manfaat yang ingin terus saya berikan kepada anak-anak,” kata perempuan asal Kecamatan Waru itu.

Fitriyah merupakan lulusan S-1 Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang pada 2021.

Setahun kemudian, dia mulai terjun ke dunia pendidikan sebagai guru matematika. Menjadi guru bukan cita-cita Fitriyah.

Sejak SD, dia justru bermimpi menjadi reporter dan kerap memperagakan diri sebagai pembawa berita setiap menonton televisi.

Mimpi itu berubah ketika memasuki SMA. Saat harus menentukan jurusan kuliah, Fitriyah memikirkan masa depannya sebagai perempuan yang kelak ingin tetap bekerja tanpa meninggalkan peran sebagai istri dan ibu.

Akhirnya, dia memiliki sebagai guru. Menurut dia, profesi ini memungkinkan dirinya tetap berkarya sekaligus memberi manfaat bagi banyak orang.

”Saya berpikir, kalau ingin tetap bekerja dan bermanfaat bagi banyak orang, saya bisa menjadi guru. Saya masih bisa menjadi istri dan ibu yang baik meskipun punya kegiatan di luar,” jelasnya.

Namun, pilihan itu bukan tanpa tantangan. Sebagai guru honorer, Fitriyah pernah menerima honor di bawah Rp 500 ribu, bahkan di bawah Rp 300 ribu per bulan.

Baca Juga: Merdeka Sejati Harus Bebas dari Kemiskinan, Refleksi Ketua DPRD Pamekasan pada HUT Ke-81 RI

GEMAR: Fitriyah Agustiningrum membaca buku di perpustakaan Kabupaten Pamekasan. (FITRIYAH AGUSTININGRUM UNTUK JPRM)
GEMAR: Fitriyah Agustiningrum membaca buku di perpustakaan Kabupaten Pamekasan. (FITRIYAH AGUSTININGRUM UNTUK JPRM)

”Kalau menerima gaji dengan nominal seperti itu apakah cukup untuk kebutuhan dapur? Tentunya jika ditakar dengan logika berpikir manusia, saya rasa tidak,” ungkapnya.

Dia pun mencari jalan lain tanpa meninggalkan dunia pendidikan. Hampir setiap hari, Senin hingga Minggu, Fitriyah mengajar les untuk anak-anak TK dan SD di rumahnya.

Aktivitas itu dia geluti sejak SMA. Setelah lulus kuliah, dia mengembangkannya dengan nama B-Cubes Course agar lebih mudah dikenal masyarakat.

”Untuk menutupi kekurangan, saya juga melakukan kegiatan lain di luar sekolah. Terkadang saya bekerja hampir setiap hari, mulai Senin sampai Minggu untuk mengajar les di rumah,” tuturnya.

Fitriyah bercerita, nama B-Cubes Course merupakan simbol B pangkat tiga. Yakni, bermakna belajar, beribadah, dan bermanfaat.

”Harapan saya, tempat ini selain untuk belajar, semoga niat mencari dan berbagi ilmu bernilai ibadah serta dapat bermanfaat bagi banyak orang,” ucapnya.

Kini perjuangannya sedikit lebih ringan. Tahun ini Fitriyah telah menjadi guru penerima sertifikasi setiap bulan yang sangat membantu memenuhi kebutuhan hariannya.

Fitriyah percaya kemerdekaan adalah ketika dia tetap punya ruang untuk memilih, mengajar, dan berbagi ilmu. 

”Alhamdulillah, tahun ini saya sudah menjadi guru penerima sertifikasi. Itu sangat membantu saya dalam memenuhi kebutuhan harian,” tukasnya. (afg/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Fitriyah Agustiningrum simbol B honor Kemerdekaan guru honorer