PAMEKASAN, RadarMadura.id – Nama besar tidak cukup diwarisi lewat nasab. Keturunan Bhuju’ Agung Toronan diharapkan konsisten memperjuangkan nilai keadilan sebagaimana yang diajarkan leluhur.
Pesan itu disampaikan salah satu keturunannya, Firman Syah Ali. Menurut dia, warisan terbesar Syekh Abdurrahman atau Bhuju’ Agung Toronan bukan sekadar garis keturunan.
”Jangan hanya diwarisi nasabnya. Warisi juga nilai-nilai kebaikan yang diajarkan untuk diteruskan dari generasi ke generasi,” katanya.
Firman menyampaikan pesan Mahfud MD kepada keluarga besar Bhuju’ Agung Toronan. Nilai keadilan yang telah diajarkan leluhur harus dipertahankan dan dikembangkan.
”Jangan pernah gentar memperjuangkan kebenaran dan keadilan di mana pun berada, walau langit akan runtuh sekalipun. Itu prinsip Bhuju’ Agung Toronan yang harus diwarisi keturunannya,” tegasnya.
Firman menjelaskan, Syekh Abdurrahman merupakan bagian dari trah Wali Songo. Jalur tersebut disebut bersambung melalui Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, dan Sunan Drajat.
Jejak itu kemudian berlanjut melalui Sunan Cendana Bangkalan dan Pangeran Katandur Sumenep. Bhuju’ Agung Toronan berdakwah ke Pamekasan pada abad ke-18 atau sekitar 1700-an.
”Dalam perjalanan dakwahnya, Bhuju’ Agung Toronan diberikan bekal segenggam tanah. Tanah tersebut diyakini memiliki kesamaan dengan tanah di Pamekasan,” kata Firman.
Bhuju’ Agung Toronan diperkirakan wafat sekitar 1760. Pasareannya di Pamekasan hingga kini menjadi salah satu tempat yang memiliki nilai penting bagi keturunannya dan masyarakat.
Menurut Firman, legacy Bhuju’ Agung Toronan juga terlihat dari kiprah para keturunannya.
Banyak di antara mereka dipercaya masyarakat sebagai tokoh masyarakat, ulama, hingga negarawan.
Hal itu menjadi gambaran bahwa doa dan didikan Bhuju’ Agung Toronan kepada keturunannya terus berlanjut. Namun, warisan tersebut harus dibuktikan melalui sikap dan pengabdian.
Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman juga mengingatkan hal serupa. Keberadaan Bhuju’ Agung Toronan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berbangga diri.
”Semoga kita sebagai keturunannya bisa mengikuti perjuangan dan mengamalkan nilai-nilai baik yang sudah diamalkan buyut,” tutur bupati yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Matsaratul Huda Panempan, Pamekasan, itu.
Menurut Kiai Kholil, keberadaan bhuju’ justru harus menjadi pendorong bagi keturunannya. Mereka harus berjalan sesuai nilai yang telah diajarkan leluhur.
”Niat kita bukan berbangga-bangga dengan adanya bhuju’. Adanya bhuju’ menjadi pendorong bagi kita untuk berjalan sesuai dengan apa yang sudah diajarkan leluhur,” ingatnya.
Dia juga menyebut banyak ulama di Jawa Timur yang memiliki hubungan keturunan dengan Bhuju’ Agung Toronan.
Silaturahmi di tempat pasarean menjadi momentum untuk kembali mengingat perjuangan leluhur.
Kiai Kholil menilai, silaturahmi membawa keberkahan. Terlebih, kegiatan tersebut diisi dengan pengajian dan tahlil.
”Dengan adanya silaturahmi, Pamekasan yang juga menjadi tempat pasarean Bhuju’ Agung mendapat berkah. Silaturahmi itu bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki,” katanya.
Dia berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai cerita sejarah. ”Semangat perjuangan leluhur harus menjadi bekal dalam menjalankan kehidupan dan mengawal pembangunan Pamekasan,” tandasnya. (*/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti