Lahir dari Panggilan Hati, Gilang Ramadhan Tekuni Profesi Terapis Wicara

Amin Basiri • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 14:34 WIB
TELATEN: Gilang Ramadhan berinteraksi dengan pasien terapis wicara.
TELATEN: Gilang Ramadhan berinteraksi dengan pasien terapis wicara.

PAMEKASAN, RadarMaduramid – Tidak semua orang bisa menyampaikan apa yang dirasakan lewat kata-kata. Kondisi itulah yang membuat Gilang Ramadhan memilih menekuni profesi sebagai terapis wicara.

Bagi Gilang, profesi tersebut bukan sekadar pekerjaan. Ada keinginan untuk membantu anak maupun orang dewasa yang mengalami gangguan komunikasi, bahasa, bicara, suara, hingga menelan.

Ketertarikan itu muncul karena dia melihat masih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan terapi wicara. Terutama anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan penanganan dan pendampingan sejak dini.

”Saya melihat masih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan terapi wicara, terutama anak berkebutuhan khusus. Saya ingin membantu sekaligus mengedukasi para orang tua tentang pentingnya deteksi dini,” kata Gilang.

Perjalanan Gilang menuju profesi tersebut cukup panjang. Dia merantau ke Jakarta pada 2013 untuk mengikuti ayahnya dan sempat bekerja selama beberapa tahun.

”Pandemi Covid-19 menjadi titik balik bagi saya. Saat perusahaan melakukan pengurangan karyawan dan saya dirumahkan, saya mulai berpikir untuk memulai sesuatu yang baru,” ujarnya.

Pada 2022, dia memutuskan kembali ke bangku kuliah setelah hampir 10 tahun vakum dari dunia pendidikan. Gilang memilih Program Studi Terapi Wicara di Politeknik Arutala Johana Hendarto Jakarta.

PEDULI: Gilang Ramadhan berinteraksi dengan siswa SPS PAUD Bina Tunas Jaya, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Oktober 2022.
PEDULI: Gilang Ramadhan berinteraksi dengan siswa SPS PAUD Bina Tunas Jaya, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, pada Oktober 2022.

”Saya sempat ragu karena sudah hampir 10 tahun tidak kuliah. Saya bertanya kepada diri sendiri apakah masih mampu mengikuti perkuliahan dan belajar kembali,” tuturnya.

Namun, keraguan itu berhasil dilewati. Pada 2025, dia menyelesaikan pendidikan sebagai terapis wicara. Bagi Gilang, belajar tidak mengenal usia. Selama ada niat, kemauan, dan usaha semuanya bisa dijalani.

Bahkan sebelum mengikuti prosesi wisuda, Gilang sudah mendapat kepercayaan bekerja sebagai terapis wicara di salah satu rumah sakit Kementerian Kesehatan RI di Sumatera Selatan.

Dalam pekerjaannya, dia menangani berbagai kondisi. Mulai speech delay, gangguan bahasa, gangguan artikulasi, gagap, gangguan suara, afasia, disartria, disfagia, hingga gangguan komunikasi akibat stroke dan penyakit neurologis.

Dia bercerita, setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, pendekatan terapinya juga tidak bisa disamakan. Menurut Gilang, menjadi terapis wicara membutuhkan kesabaran dan empati. Hasil terapi juga tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.

”Kadang ada pasien yang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencapai target tertentu. Di situ saya belajar untuk terus sabar dan mendampingi pasien bersama keluarganya,” ungkapnya.

Bagi Gilang, kebahagiaan terbesar justru datang dari perkembangan kecil pasien. Misalnya, ketika pasien yang awalnya belum mampu mengucapkan kata akhirnya bisa menyebut kata pertama.

”Ketika melihat pasien yang awalnya belum bisa mengucapkan kata kemudian mampu menyebut kata pertama, rasanya sangat bahagia. Begitu juga ketika pasien yang mengalami gangguan menelan mulai bisa makan dan minum dengan lebih aman,” tuturnya.

Selain memberikan pelayanan, Gilang aktif membuat konten edukasi mengenai terapi wicara. Dia ingin masyarakat lebih mengenal gangguan komunikasi dan memahami pentingnya deteksi dini.

”Harapan saya, semakin banyak masyarakat yang mengenal profesi terapis wicara. Dengan begitu, anak maupun orang dewasa yang membutuhkan bisa mendapatkan penanganan lebih dini,” ujarnya.

Gilang percaya, menjadi terapis wicara bukan hanya tentang memberikan terapi. Profesi itu juga tentang membangun harapan dan mendampingi pasien hingga mampu berkomunikasi serta menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

”Jangan pernah takut memulai dari awal. Niat yang baik, usaha yang sungguh-sungguh, dan doa dari orang tua akan selalu menjadi kekuatan terbesar dalam setiap langkah kehidupan,” pungkasnya. (afg/han)

Editor : Amin Basiri
terapis wicara profesi