PAMEKASAN, RadarMadura.id – Panen tembakau mulai berlangsung di sejumlah wilayah Pamekasan.
Namun, biaya pokok produksi (BPP) tembakau 2026 belum juga ditetapkan.
Kondisi itu dirasakan oleh sejumlah petani yang sudah mulai memanen tembakau di Kota Gerbang Salam.
Salah satunya adalah Atmawi, petani asal Desa Bajur, Kecamatan Waru.
”Panen sudah, tapi tidak ada harga pasti. Sudah dipanen untuk daun bawah dan tengah. Tetapi, sampai sekarang dijual ke gudang ditolak,” kata Atmawi.
Ayah tiga anak itu mengatakan, hasil panen tembakaunya beberapa kali belum terserap gudang.
Tembakau yang sudah dipanen kini masih menumpuk di rumah.
”Saya titip (hasil panen tembakau, Red) ke tetangga yang kebetulan punya kenalan ke gudang. Sekarang saya bingung mau dijual ke siapa,” ujarnya.
Atmawi berharap penetapan BPP segera dilakukan.
Sebab, petani yang sudah memasuki masa panen membutuhkan kepastian harga untuk menjual hasil produksinya.
Petani tembakau lainnya, Ahmad Sadewi, juga mengaku khawatir dengan kondisi musim panen tahun ini.
Sebagian tanaman tembakaunya mulai diguyur hujan.
”Sebagian tanaman tembakau sudah mulai kena hujan. Kami semakin khawatir kalau kondisi harga juga belum jelas,” kata petani tembakau asal Kecamatan Pegantenan itu.
Sadewi mengatakan, tanaman yang belum dipanen menghadapi risiko terkena hujan.
Karena itu, dia berharap kepastian harga segera diperoleh petani.
Sementara itu, Sekkab Taufikurrachman memastikan Pemkab Pamekasan tetap berkomitmen memperjuangkan nasib petani tembakau.
Dia menyatakan akan mengecek lebih lanjut perkembangan penetapan BPP 2026.
”Untuk detail BPP tembakau akan saya tanyakan lebih lanjut,” tandas mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pamekasan itu. (afg/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti