Rini, Warga Dusun Rampak Daya Puluhan Tahun Mengais Rezeki dengan Menganyam Tikar, Proses Pembuatan Butuh Waktu Dua hingga Tiga Hari

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 06:18 WIB
TELATEN: Rini menganyam daun lontar untuk dijadikan tikar di rumahnya, Dusun Rampak Daya, Desa Tampojung Tengah, Kecamatan Waru, Pamekasan, Sabtu (1/8) malam. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
TELATEN: Rini menganyam daun lontar untuk dijadikan tikar di rumahnya, Dusun Rampak Daya, Desa Tampojung Tengah, Kecamatan Waru, Pamekasan, Sabtu (1/8) malam. (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id Rini bukan petani tembakau. Tapi, dia selalu menantikan musim panen tiba.

Sebab, dia mencari nafkah dengan menganyam daun lontar untuk dijadikan tikar. 

Hasil anyaman itu bisa dijadikan pembungkus tembakau kering para petani yang sudah dirajang.

Saat musim panen tembakau, rumah sederhananya, Dusun Rampak Daya, Desa Tampojung Tengah, Kecamatan Waru, dipenuhi tumpukan daun lontar.

Baca Juga: Pengajuan Persetujuan Pembelian Tembakau Nihil,  Komisi II: Disperindag Pamekasan Harus Lebih Proaktif

Pemandangan itu terlihat saat Jawa Pos Radar Madura (JPRM) menyambangi rumahnya pada Senin (1/8) malam.

Jemarinya bergerak pelan, menyusun setiap helai daun lontar hingga menjadi tikar utuh.

”Kalau musim tembakau begini, alhamdulillah masih ada yang pesan,” ujarnya.

Menganyam bukan pekerjaan yang mudah. Ada beberapa proses yang harus dilalui lebih dahulu. Misalnya, daun lontar harus dipetik dari pohonnya.

Ibu empat anak itu harus membayar orang sekitar Rp 30 ribu setiap kali mengambil daun karena pohonnya menjulang tinggi.

Daun yang baru dipetik belum bisa dianyam. Lidinya harus dipisahkan dari daun satu per satu.

Setelah itu, daun dibiarkan beberapa saat di luar rumah agar lebih lentur dan tidak mudah patah saat dianyam.

Semua proses itu dikerjakan dengan sabar dan telaten. Tak ada mesin. Tak ada alat modern. Semua pekerjaan itu dilakukan Rini selama puluhan tahun.

Baca Juga: Harga Tikar Terkatrol Daun Emas, Meroket kala Puncak Masa Panen

Usianya yang tak lagi muda, membuat tenaga Rini semakin terbatas. Kini satu tikar baru bisa diselesaikan dalam waktu dua sampai tiga hari.

”Sudah tidak secepat dulu. Sekarang kuatnya segini saja,” katanya sambil tersenyum.

Upah yang diterima Rini berkisar Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu untuk satu tikar. Sekilas terlihat cukup. Namun, upah itu belum dikurangi biaya bahan baku dan yang lainnya.

Setelah dikurangi ongkos mengambil daun lontar dan kebutuhan lainnya, uang yang tersisa sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu.

Itulah bayaran atas kerja keras selama dua sampai tiga hari dari perempuan yang sudah lama ditinggal suami itu.

Rini tak pernah menghitung berapa besar keuntungan yang didapat. ”Yang penting masih ada pekerjaan, masih ada yang bisa dibuat untuk beli makan dan kebutuhan lainnya,” ungkap Rini.

Perempuan lansia itu tak ingat pasti berapa usianya. Yang masih melekat di ingatan, dia mulai menganyam sejak usia balig. Rini juga tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah.

Masa kecilnya dihabiskan membantu orang tuanya bertani. Dari sanalah dia belajar bekerja tanpa mengenal lelah.

Baca Juga: Karapan Sapi Piala AHY Meneguhkan Semangat Persatuan, 64 Pasang Sapi Siap Berlaga

Keahlian menganyam kemudian menjadi bekal hingga membangun rumah tangga.

Kini, satu dari empat anaknya sudah berkeluarga. Namun, kehidupan mereka juga belum bisa dibilang berkecukupan. ”Anak-anak juga hidupnya pas-pasan,” tuturnya.

Rumah yang ditempati Rini jauh dari kata mewah. Dindingnya hanya lembaran seng, sementara lantainya beralas tanah.

Tak ada perabotan mahal di dalamnya. Namun, keadaan itu tak pernah membuat Rini kehilangan syukur.

Dari rumah berdinding seng itu, Rini terus menganyam daun lontar dan menenun harapan untuk menyambung hidup setiap musim tembakau.

”Saya yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Saya juga yakin bahwa takdir-Nya selalu baik. Alhamdulillah untuk segala nikmat yang telah saya dan keluarga dapatkan,” ucapnya lirih. (afg/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
daun lontar bungkus tembakau Tikar menganyam