PAMEKASAN, RadarMadura.id – Gelombang penolakan terhadap kebijakan universal health coverage (UHC) nonprioritas belum mereda. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Pamekasan menilai pembatasan layanan kesehatan itu semakin membebani masyarakat.
Koordinator Aliansi BEM Pamekasan Junaidi mengatakan, sejak kepesertaan PBI-JK dinonaktifkan, akses layanan kesehatan warga miskin ikut terdampak.
”Tidak sedikit warga yang kesulitan berobat karena harus menanggung biaya sendiri,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut semestinya bisa diatasi. Sebab, hingga akhir tahun diproyeksikan masih ada potensi sisa anggaran sekitar Rp 12 miliar hingga Rp 14 miliar yang belum terserap.
Junaidi menilai, anggaran itu cukup untuk menambah cakupan kepesertaan BPJS Kesehatan. Apalagi, keaktifan peserta di Pamekasan disebut kurang sekitar 11 persen untuk kembali memenuhi syarat UHC prioritas.
”Tidak masuk akal jika anggaran itu dibiarkan mengendap, sementara masyarakat masih kesulitan mendapat layanan kesehatan,” ungkapnya.
Baca Juga: Gubernur Khofifah Janji Bakal Tinjau SMK Kesehatan yang Disegel
Dia menegaskan, kesehatan merupakan hak dasar yang wajib dipenuhi negara. Karena itu, pemerintah daerah diminta segera mengembalikan UHC ke skema prioritas agar masyarakat tidak lagi terbebani biaya berobat.
”Jangan biarkan rakyat dihantui biaya pengobatan saat sedang sakit. Sisa anggaran belasan miliar tersebut harus bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan bagi masyarakat banyak,” ujarnya.
Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Abd. Rasyid Fansari juga melihat peluang mengembalikan UHC prioritas masih terbuka. Proyeksi sisa anggaran PBID dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperluas kepesertaan BPJS Kesehatan.
Menurut Rasyid, ruang fiskal mulai terbuka setelah sebagian besar peserta desil 1–5 beralih menjadi tanggungan pemerintah pusat. Akibatnya, pagu PBID berpotensi menyisakan anggaran hingga belasan miliar rupiah.
”Kalau hitung-hitungan itu tercapai, peluang kembali ke UHC prioritas sangat terbuka. Utamanya dalam beberapa bulan ke depan ini,” tandasnya. (afg/yan)
Editor : Anis Billah