PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kuas dan bedak menjadi sumber nafkah bagi Sitti Murni, 48. Selama 23 tahun terakhir, perempuan asal Desa Waru Barat, Kecamatan Waru, itu bertahan sebagai perias wajah.
Melalui usaha Murni Wedding and Spa, Sitti menghidupi keluarga sekaligus membangun bisnis di bidang kecantikan. Dia mulai menekuni dunia tata rias pada 2003.
Keahlian itu tidak diperoleh dari bangku pendidikan maupun kursus. Dia belajar secara otodidak.
Berbekal kemauan dan ketekunan, dia terus mengasah kemampuan hingga dipercaya banyak pelanggan.
Baca Juga: Bukan Skincare Mahal, Serai Ternyata Punya Manfaat Luar Biasa untuk Kecantikan Kulit
”Awalnya saya belajar sendiri. Tidak pernah ikut kursus. Saya melihat cara orang merias, mencoba di rumah, lalu terus berlatih sampai akhirnya berani menerima pelanggan,” tuturnya.
Menurut Sitti, keluarga dan tetangga menjadi pelanggan awal yang dia rias.
Dari situ, hasil riasannya dikenal dari mulut ke mulut. Pelanggan terus bertambah hingga akhirnya dia mendirikan Murni Wedding and Spa.
Kini, usahanya melayani rias pengantin, lamaran, wisuda, hingga berbagai acara keluarga.
Tidak hanya menyediakan jasa make up, Murni juga mengembangkan layanan spa.
Ibu dua anak itu percaya bahwa kebutuhan pelanggan tidak sebatas rias wajah saat hari penting, tetapi juga perawatan tubuh sebelum acara.
Karena itu, kedua layanan tersebut dijalankan secara bersamaan.
”Kalau tidak mau belajar, pasti akan tertinggal. Selera pelanggan sekarang berbeda dengan dulu. Jadi saya terus mencari referensi dan mencoba teknik-teknik baru,” ujarnya.
Musim hajatan menjadi periode paling sibuk. Dalam sehari, dia bisa menangani lebih dari satu pelanggan.
Namun, saat tidak banyak acara, pesanan ikut menurun sehingga pendapatan tidak selalu stabil.
Baca Juga: Bunga Kenanga: Herbal Nusantara dengan Khasiat Lengkap untuk Kesehatan dan Kecantikan
Meski demikian, Sitti tidak pernah berniat meninggalkan profesi tersebut.
Sebab, dari usaha make up dan spa itulah kebutuhan keluarganya terpenuhi selama lebih dari dua dekade.
”Alhamdulillah, dari pekerjaan ini saya bisa menghidupi keluarga. Rezekinya memang naik turun, tetapi selalu saya syukuri,” tutur perempuan yang juga seorang guru ngaji itu.
Selain menjaga kualitas riasan, Sitti selalu mengutamakan pelayanan kepada pelanggan.
Sebab, kepercayaan konsumen menjadi modal terpenting untuk mempertahankan usaha yang telah dirintis selama 23 tahun.
Dia berharap semakin banyak perempuan berani menekuni bidang ekonomi kreatif.
Baginya, keterampilan yang diasah dengan sungguh-sungguh dapat menjadi peluang usaha sekaligus sumber penghasilan.
”Yang penting jangan takut untuk memulai. Kalau terus belajar dan menjaga kepercayaan pelanggan, insyaallah akan ada jalan rezeki. Saya yakin takaran rezeki tidak pernah tertukar,” pungkasnya. (afg/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti