PAMEKASAN, RadarMadura.id – Madura tak hanya hidup dalam cerita dan tradisi. Pulau Garam juga terus hadir dalam sapuan kuas para pelukis.
Eksotisme alam, kehidupan pesisir, hingga falsafah hidup masyarakatnya menjadi tema yang berulang kali diabadikan di atas kanvas.
Gagasan itu mengemuka dalam koloman budaya yang digelar Sivitas Kotheka Pamekasan di Kafe Balada pada Kamis (11/6) malam.
Forum tersebut menghadirkan budayawan Hidayat Raharja untuk membedah jejak Madura dalam dunia seni lukis.
Baca Juga: Rintis Warkop Pascalulus Kuliah: Sajikan Konsep Toko Buku, Kafe, dan Ruang Kreatif
Menurut dia, hanya sedikit pelukis nasional yang secara khusus merekam Madura dalam karya mereka.
”Di antaranya Hendra Gunawan yang banyak melukiskan kehidupan nelayan serta Affandi yang mengangkat perahu Madura sebagai objek lukisan. Madura adalah wilayah yang eksotis dan menarik,” ujarnya.
Bagi para pelukis, Madura bukan sekadar hamparan daratan yang dikelilingi laut.
Ada karakter masyarakat yang tangguh dan tidak mudah menyerah.
Nilai-nilai itu kemudian menjelma menjadi inspirasi dalam berbagai karya seni.
Filosofi abantal omba’ asapo’ angen menjadi salah satu roh yang kerap muncul dalam tafsir para seniman.
Laut tidak hanya dipandang sebagai bentang alam, melainkan sahabat yang menempa keberanian dan keteguhan hidup.
Hidayat menjelaskan, sejumlah pelukis Madura juga konsisten berkarya hingga kini.
Nama-nama seperti Tamar Saraseh, Edi Supratman, dan Oceh Sumantri disebut sebagai bagian dari generasi yang terus menghadirkan Madura dalam kanvas mereka.
Baca Juga: Jejak Kerusakan Mangrove Masih Tersisa Usai Dua Tahun Dibabat Korporasi
Karya-karya para pelukis itu menghadirkan beragam tafsir, mulai dari tradisi yang bersifat seremonial hingga persoalan-persoalan mendasar tentang kehidupan masyarakat Madura.
Tema laut dan kehidupan pesisir menjadi salah satu yang paling dominan. Ada lukisan yang menampilkan keindahan pantai secara visual.
Ada pula yang menghadirkan laut sebagai simbol filosofis yang menyimpan makna mendalam.
”Laut menjadi lambang kehidupan yang dinamis. Di sana ada nilai ketangguhan dan keberanian,” terangnya.
Tidak hanya laut. Perahu yang banyak dijumpai dalam lukisan para seniman Madura juga memuat pesan simbolik.
Perahu dimaknai sebagai lambang keteguhan dan keikhlasan manusia saat menghadapi gelombang kehidupan.
Bahkan, gerak perahu yang terombang-ambing ombak kerap ditafsirkan sebagai tubuh yang khusyuk berzikir di tengah sunyinya malam.
Tafsir semacam itu menunjukkan bahwa lukisan Madura tidak berhenti pada keindahan visual semata.
Ketua Sivitas Kotheka Pamekasan Moh. Afnan Rahmaturrahman mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian milad ke-9 komunitasnya.
Dia berharap, ruang-ruang diskusi kebudayaan terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
”Kami mengajak semua pihak untuk terus mendukung Sivitas Kotheka agar tetap tumbuh, semakin baik, dan berumur panjang,” katanya.
Afnan juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta yang hadir, khususnya kepada Hidayat Raharja yang telah mengajak publik melihat kembali bagaimana Madura direkam melalui goresan-goresan kanvas para pelukis dari masa ke masa. (afg/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti