PAMEKASAN, RadarMadura.id – Tidak banyak mahasiswa yang berjuang sendiri untuk mempertahankan pendidikannya.
Beberapa di antaranya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menjaga mimpi meraih gelar sarjana tetap menyala.
Seperti terlihat di ruang kuliah jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Syariah UIN Madura, Kamis (4/6).
Seorang pemuda duduk di barisan depan dengan jaket ojek online (ojol) yang masih melekat di tubuhnya.
Baca Juga: BRI Kantor Cabang Sumenep Pastikan Proses Lelang Agunan Nasabah Sesuai Ketentuan Hukum
Pemuda itu adalah Ach. Ubaidillah. Teman-teman akrab memanggilnya Ubed. Mahasiswa semester empat tersebut tampak berbeda.
Namun, di balik jaket yang dikenakannya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak semua orang mampu menjalaninya.
”Saya memang tidak punya pakaian lagi saat itu. Yang lain belum dicuci, jadi terpaksa memakai jaket ojol. Dibilang malu, biasa saja sih,” kata Ubed.
Bagi Ubed, jaket ojol bukan sekadar pakaian. Jaket itu menjadi saksi perjalanan panjangnya mempertahankan mimpi mengenyam pendidikan tinggi di kampus Islam negeri di Pamekasan itu.
Sejak semester dua, Ubed mulai bekerja sebagai pengemudi ojol dan menerima berbagai jasa suruhan.
Tujuannya sederhana, mencari tambahan biaya kuliah sekaligus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Latar belakang ekonomi keluarga yang sederhana membuatnya memilih untuk tidak bergantung sepenuhnya kepada orang tua.
Baca Juga: Jejak Historis Koboi: Dari Penggembala Sapi Menjadi Ikon Dunia
Dia memahami betul kondisi keluarganya. Karena itu, sejak awal kuliah anak pertama dari empat bersaudara itu tetap berusaha mencari jalan sendiri agar tetap bisa bertahan.
”Saya tertarik karena memang butuh tambahan uang. Jadi harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup,” imbuhnya.
Perjuangan Ubed tidak berhenti di situ. Untuk menghemat pengeluaran, dia tinggal di sebuah lembaga dekat kampus yang memberinya tempat tinggal secara gratis. Di sana, kebutuhan makan dan akses internet juga terpenuhi.
Saat ini, aktivitas sebagai pengemudi ojol mulai dikurangi karena kesibukan organisasi dan kegiatan kampus yang semakin padat. Namun, satu pekerjaan masih rutin dijalaninya, yakni menjadi kurir pengangkut ikan.
Hampir setiap hari dia mengambil ikan dari kawasan Kecamatan Pademawu untuk diantar ke Pasar Blumbungan, Kecamatan Larangan, sesuai pesanan pedagang. Sekali perjalanan, dia memperoleh upah sekitar Rp 50.000.
”Sekarang ojol sudah jarang karena banyak kegiatan. Tetapi kalau jemput ikan masih sering. Lumayan untuk tambahan kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Perjalanan Ubed hingga bisa duduk di bangku kuliah juga tidak mudah. Awalnya, orang tuanya sempat tidak mengizinkan kuliah di UIN Madura karena khawatir tidak mampu membayar biaya pendidikan.
Baca Juga: Mengenal Toron: Kearifan Lokal Madura yang Terus Dilestarikan
Bahkan, dia sempat diminta kembali mengabdi dan melanjutkan pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Namun, keinginannya merasakan pengalaman kuliah di luar pesantren tidak pernah surut.
Ubed kemudian mencari berbagai informasi jalur masuk perguruan tinggi hingga menemukan jalur Mandiri Prestasi UIN Madura melalui kemampuan hafalan kitab Alfiyah Ibnu Malik yang dimilikinya.
”Saya pamit ke orang tua untuk mencoba mendaftar. Dulu biaya pendaftarannya Rp 250.000. Orang tua sebenarnya khawatir karena mengira UKT mahal. Alhamdulillah setelah diterima, UKT saya hanya Rp 200.000,” ungkapnya.
Bagi Ubed, kuliah bukan alasan untuk membebani orang tua. Dia memilih menjalani semuanya dengan kesadaran penuh atas kondisi keluarga. Tidak banyak tuntutan yang dia ajukan kepada kedua orang tuanya.
”Saya tidak pernah memaksa orang tua harus dibiayai. Kalau diberi ya diterima, kalau tidak ya tidak meminta. Karena saya sadar, kemampuan ekonomi keluarga masih menengah ke bawah,” ucapnya.
Kesederhanaan itulah yang membuat kisah Ubed terasa istimewa. Saat sebagian mahasiswa berangkat kuliah dengan berbagai fasilitas, dia justru datang dengan jaket ojol yang masih dipakai bekerja.
Namun, di balik kesederhanaan tersebut, tersimpan tekad besar untuk mengubah masa depan melalui pendidikan.
”Yang penting yakin bahwa perjuangan tidak akan sia-sia,” tandasnya. (afg/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti