PAMEKASAN, RadarMadura.id – Penyegelan sepihak gedung SMK Kesehatan Nusantara Pamekasan memasuki babak baru.
Pihak sekolah menempuh langkah hukum dengan melaporkan Arofatin Nisa’, sosok yang diduga menutup akses lembaga pendidikan tersebut ke Polres Pamekasan.
Kepala SMK Kesehatan Nusantara Ahmad Mahfud mengaku melaporkan Arofatin Nisa’ karena melakukan penyegelan sepihak.
Mantan bendahara itu juga dilaporkan telah melakukan pengusiran terhadap empat siswi yang tinggal di asrama sekolah hingga menyisakan trauma psikologis.
”Tiba-tiba, Senin (11/5) sekitar pukul 18.15, anak asrama menelepon kalau pagar sekolah digembok dari luar dan mereka ketakutan di asrama,” ucap Ahmad Mahfud.
Mahfud menuturkan, tindakan Arofatin Nisa’ telah merugikan sekolah.
Persoalan yang menyangkut aset pendidikan dan bangunan sosial seharusnya diselesaikan secara terbuka dan mengedepankan kepentingan anak didik, bukan justru memicu keresahan di lingkungan sekolah.
Mahfud menyatakan, pihak sekolah juga membuat pengaduan ke beberapa instansi pemerintahan, mulai dari pemerintah daerah, DPRD hingga Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Pamekasan.
Harapannya, hak para anak didik untuk belajar bisa terakomodasi.
”Di atas lahan itu ada sekolah, ada anak-anak, ada masa depan yang sedang dibangun. Apa pun konfliknya, anak didik tidak boleh menjadi korban. Dunia pendidikan harus dijaga dengan hati nurani dan tanggung jawab moral,” tegasnya.
Mahfud juga menduga nama pemilik sertifikat tanah di sekolah itu diubah tanpa sepengetahuan yayasan.
Gedung sekolah yang dibangun sejak 2011 dan langsung ditempati pada 2012 tersebut merupakan hibah dari H Marzuki ke Yayasan Kunci Ilmu dan dibeli dari H Tohir.
”Pada awal sekolah berdiri, sertifikat masih atas nama H Tohir. Tahun 2014 ternyata sudah diganti oleh Arofatin Nisa’ saat menjadi pengurus yayasan,” ujarnya.
Sementara itu, koran ini telah berupaya menghubungi Arofatin Nisa’ sebagai pihak yang diduga menyegel lembaga pendidikan yang terletak di Jalan Raya Nyalaran, Kelurahan Kowel tersebut.
Namun sejak Sabtu–Minggu (16–17/5), yang bersangkutan tidak merespons meski ponselnya aktif.
Sementara itu, Kasihumas Polres Pamekasan Ipda Yoni Evan Pratama mengaku masih akan mengecek terkait laporan dari SMK Kesehatan Nusantara tersebut.
”Jika ada, akan kami dalami dulu,” pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti