PAMEKASAN, RadarMadura.id – Suasana berbeda tersaji di Cafe & Resto Hotel Odaita, Kamis (7/5).
Ruang makan yang biasanya dipenuhi aroma hidangan dan riuh percakapan pengunjung, kini menjelma menjadi ruang apresiasi seni.
Di antara meja, kursi, serta lalu-lalang tamu hotel, deretan lukisan terpajang rapi di sudut-sudut ruangan, menghadirkan nuansa hangat sekaligus artistik.
Cahaya matahari yang menembus kaca-kaca besar hotel memantul lembut pada kanvas-kanvas berwarna.
Sapuan kuas bergaya abstrak menghadirkan perpaduan warna yang hidup, tetapi tetap menyisakan kesunyian.
Setiap lukisan seolah mengajak pengunjung berhenti sejenak, bukan hanya untuk menikmati hidangan, tetapi juga tenggelam dalam ruang kontemplasi yang personal.
Pengunjung yang datang tampak sesekali memperlambat langkah. Ada yang berdiri cukup lama di depan lukisan, ada pula yang memotretnya sebelum kembali duduk menikmati kopi.
Atmosfer kafe berubah menjadi lebih reflektif, seolah seni dan keseharian saling bertemu tanpa sekat.
Di balik karya-karya tersebut, berdiri seniman Budi Hariyanto. Dalam pameran tunggalnya yang kesembilan, pria yang akrab disapa Pak Guru Budi tersebut mengusung tema Kontemplasi Daun-Daun.
Tema itu lahir dari pengalaman sederhana di rumahnya, yaitu saat duduk sendiri memandangi halaman yang dipenuhi daun-daun berguguran.
Baca Juga: Penerima Banpang di Pamekasan Bertambah Puluhan Ribu
Menurut Pak Guru Budi, daun bukan sekadar objek alam biasa. Baginya, daun menyimpan makna kehidupan, perubahan, sekaligus keindahan yang sering luput dari perhatian manusia.
”Daun itu memberikan keindahan tersendiri. Dari situlah saya mendapatkan inspirasi. Saya mencoba melukisnya dengan teknik dan gaya saya sendiri, ternyata hasilnya sangat estetik,” tuturnya.
Guru Seni Budaya SMAN 1 Pademawu itu mengaku, melalui karya-karyanya, dirinya memasukkan warna-warna yang merepresentasikan kegelisahan batin serta pengalaman emosional yang dirasakan.
Warna-warna kuat berpadu dengan ruang kosong dalam kanvas, menghadirkan dialog antara ketenangan dan pergulatan perasaan.
”Memang sengaja objeknya daun-daun. Setelah cat dituangkan, langsung daun-daun itu ditempelkan di atas kanvas, setelah itu dijemur. Ketika kering, daunnya diangkat. Dari sesuatu yang sederhana, ternyata bisa menghadirkan makna yang dalam,” imbuhnya.
Bagi Budi, melukis bukan sekadar proses artistik, melainkan perjalanan refleksi diri.
Daun-daun yang dia tuangkan di atas kanvas menjadi simbol perjalanan hidup: tumbuh, berubah, lalu kembali menyatu dengan alam.
”Ada 18 lukisan yang dipamerkan. Sengaja semua lukisan diberi judul Jejak Daun. Saya menekankan di kata jejak, semua dalam hidup berjejak. Termasuk kita, juga ada jejak yang ditinggalkan,” tegasnya.
Pria berusia 53 tahun itu juga menyatakan, proses kreatif yang dijalaninya tidaklah mudah hingga menghasilkan karya yang final.
Sesekali harus menghentikan proses melukis, mengambil jarak dari kanvas. Bahkan, tidak jarang setiap lukisan membutuhkan waktu perenungan.
Karya dikerjakan berulang kali, diperbaiki, bahkan diubah total hingga menemukan rasa yang tepat.
”Tapi kadang-kadang begitu saya angkat, daun-daun itu memang kurang masuk. Akhirnya saya modifikasi lagi dengan sentuhan cipratan dan segala macam, sampai benar-benar final dan kelelahan saya terbayar,” sambungnya.
Selain itu, Pak Guru Budi juga menekankan pentingnya mencintai alam dalam setiap karya yang dilahirkan.
Baginya, jika dimaknai secara mendalam, pohon merupakan saudara tua manusia.
Sebab, dalam proses penciptaan kehidupan, pepohonan lebih dahulu hadir di bumi sebelum manusia dilahirkan dan hidup berdampingan dengan alam.
”Kalau kita sebagai manusia memperlakukan alam, termasuk pohon, secara sembarangan, pasti ada konsekuensinya. Alam punya cara sendiri untuk menyeimbangkan kembali, seperti yang terjadi: longsor, banjir, dan lain sebagainya,” pungkasnya. (lil/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti