Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dinkes Klaim Prevalensi Stunting Turun, Intervensi Difokuskan di Wilayah Rawan

Amin Basiri • Senin, 27 April 2026 | 08:09 WIB
Ilustrasi stunting.
Ilustrasi stunting.

 

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Pamekasan pada awal 2026 diklaim turun 2,03 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebab, di triwulan pertama 2025 angkanya mencapai 3,11 persen.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Achmad Syamlan menyatakan, meski secara data menurun, pihaknya tetap memberikan perhatian serius terhadap penanganan gizi buruk di Kota Gerbang Salam. Khususnya untuk wilayah yang memiliki prevalensi di atas 4 persen.

”Kami berupaya tetap berada di bawah 5 persen. Menurunkan stunting itu sulit dan butuh waktu, jadi kami targetkan tidak boleh lebih dari 5 persen,” ungkap Syamlan.

Terdapat beberapa puskesmas yang mencatatkan prevalensi stunting cukup tinggi berdasarkan data E-PPGBM per-Maret 2026. Seperti di Puskesmas Pegantenan dengan jumlah 474 balita, Panaguan 196 balita, Pakong 165 balita, Proppo 121 balita, Tlanakan 140 balita, dan Puskesmas Sopaah sebanyak 123 balita.

”Stunting di Pamekasan, kasusnya multisektoral. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari penyakit kronis yang menghambat penyerapan gizi, malnutrisi hingga faktor pola asuh,” ujarnya.

Baca Juga: Matangkan Persiapan Puslatkab, Atlet Pamekasan Menuju Porprov X

Syamlan meyakini, penurunan prevalensi stunting salah satunya karena berbagai intervensi program yang selama ini dilakukan pemerintah. Seperti pemberian makanan tambahan (PMT) dan makan bergizi gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Di samping upaya mengaktifkan kehadiran masyarakat ke posyandu.

”Program MBG dan PMT lokal kami pastikan tidak tumpang tindih, harus saling melengkapi. Jika MBG didistribusikan siang, PMT bisa diberikan pagi, yang penting benar-benar dikonsumsi penerima manfaat, bukan anggota keluarganya,” sebutnya.

Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Abd. Rasyid Fansori menekan agar eksekutif terus berupaya mengoptimalkan intervensi penurunan gizi buruk di Bumi Pamelingan hingga zero. Baik melalui pendekatan intervensi spesifik atau penyebab langsung, dan intervensi sensitif atau penyebab tidak langsung.

”Capaian positifnya kami apresiasi. Tapi, tidak boleh terlena dengan itu. Penanganan yang dilakukan harus berkelanjutan, terutama untuk intervensi sensitif, semua perangkat terkait harus komitmen,” pesannya. (lil/jup)

Editor : Amin Basiri
#pamekasan #stunting #dinkes pamekasan