PAMEKASAN, RadarMadura.id – Dua video asusila yang diduga melibatkan pelajar di Pamekasan menjadi alarm serius bagi semua pihak.
Peristiwa tersebut dinilai bukan sekadar pelanggaran individu, tetapi juga mencerminkan persoalan moral dan lemahnya pengawasan di lingkungan pendidikan maupun keluarga.
Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir mengaku prihatin atas kejadian tersebut.
Jika video yang beredar itu benar, maka kondisi tersebut sangat memprihatinkan, terlebih melibatkan kalangan pelajar.
Baca Juga: KPK Lakukan Pemeriksaan di Sampang, Dalami Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pemprov Jatim
”Kami sangat prihatin jika ini benar-benar terjadi, apalagi terjadi di kalangan siswa. Ini sangat kami sayangkan,” tutur alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Persoalan itu harus disikapi secara serius, termasuk oleh aparat penegak hukum (APH).
Jika ditemukan adanya unsur pidana, proses hukum harus tetap ditegakkan sesuai aturan yang berlaku.
”Ini perlu tindak lanjut. Jika ada pelanggaran hukum, silakan diproses sesuai peraturan dan perundang-undangan. Tetapi, juga diperlukan langkah pembinaan dan evaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari,” urainya.
Muchlis mengajak pihak terkait untuk melakukan pembinaan dan evaluasi menyeluruh.
Dia juga menyoroti pentingnya peran orang tua dan lembaga pendidikan dalam membentuk karakter siswa.
Baca Juga: Program Nelayan Tangguh PETRONAS Dukung Kesehatan Nelayan Ketapang
Alumnus Pondok Pesantren Sidogiri itu menambahkan, pengawasan yang kuat harus diiringi dengan pendekatan emosional yang baik antara guru dan murid. Tujuannya, untuk membangun hubungan emosional yang lebih baik.
Kiai Muchlis berharap, peristiwa ini menjadi momentum bagi semua elemen untuk berbenah.
”Sehingga, marwah pendidikan di Pamekasan tetap terjaga dan generasi muda dapat tumbuh dengan nilai-nilai moral yang kuat,” harapnya.
Sebelumnya, sebuah video asusila diduga diperankan oleh dua pelajar viral di media sosial (medsos).
Polisi telah mengamankan pemeran lelaki berinisial FP. Sementara pemeran perempuan berinisial PJ dianggap sebagai korban.
Tak lama setelah itu, video lain yang juga diduga diperankan oleh sepasang pelajar beredar luas.
Namun, belum diketahui lokasi maupun waktu pembuatan video itu. Saat ini polisi tengah mendalami kasus tersebut. (afg/jup)
Editor : Hera Marylia Damayanti