Tiga Orang Terperosok saat Kunjungi Ekowisata Mangrove, Akibat Pemeliharaan Minim

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Selasa, 14 April 2026 | 08:09 WIB
MEMBAHAYAKAN: Pengunjung terperosok ke dasar pantai di Ekowisata Mangrove, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, Senin (13/4). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
MEMBAHAYAKAN: Pengunjung terperosok ke dasar pantai di Ekowisata Mangrove, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, Senin (13/4). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Kondisi ekowisata mangrove di Desa Lembung, Kecamatan Galis, kian memprihatinkan. Sebab, destinasi wisata yang sempat menjadi andalan wisata alam Kota Gerbang Salam itu nyaris tak tersentuh perbaikan dalam tiga tahun terakhir.

Akibatnya, jembatan kayu wisata itu banyak yang lapuk dan membahayakan pengunjung. Fakta itu terlihat Senin (13/4).

Sejumlah papan jembatan yang rapuh tak mampu menahan beban orang yang lewat. Bahkan, tiga orang pengunjung terperosok ke dasar pantai.

Mereka mengalami luka-luka. Para korban merupakan aktivis dan pegiat lingkungan yang datang bersama Perhutani Madura yang tengah melakukan peninjauan lokasi. Mereka hendak mengikuti kegiatan pelepasan burung dan penanaman mangrove.

Salah satu korbannya adalah Nur Faisal. Dia menyayangkan buruknya kondisi fasilitas tersebut.

Menurutnya, kerusakan yang dibiarkan berlarut-larut menunjukkan lemahnya perhatian terhadap keselamatan pengunjung.

”Ini sangat membahayakan. Fasilitasnya sudah tidak layak, tapi tidak segera diperbaiki. Harusnya ada langkah cepat sebelum memakan korban lebih banyak,” ujar pria yang juga Wakil Ketua Bidang Hukum dan HAM Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Timur itu.

Sementara itu, Ketua Pokdarwis Sabuk Hijau Ekowisata Mangrove Slaman menyatakan, perbaikan terakhir dilakukan tahun 2023. Saat itu pihaknya hanya menerima anggaran pemeliharaan Rp 10 juta.

Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki beberapa bagian yang rusak, namun belum menyentuh keseluruhan area.

Dia mengungkapkan, pengelolaan wisata melibatkan tiga lembaga. Yakni, pemerintah daerah, Perhutani, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

”Kalau pemeliharaan murni dari pemkab. Kalau yang lain saya tidak begitu paham,” katanya. Slaman menambahkan, persoalan perbaikan fasilitas tidak bisa dianggap sepele. Sebab, berkaitan langsung dengan kenyamanan dan keamanan pengunjung.

BANYAK LAPUK: Pengunjung terperosok ke dasar pantai saat melewati jembatan kayu di Ekowisata Mangrove, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, Senin (13/4). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)
BANYAK LAPUK: Pengunjung terperosok ke dasar pantai saat melewati jembatan kayu di Ekowisata Mangrove, Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, Senin (13/4). (MOH. IQBAL AFGANI/JPRM)

Namun, jika kawasan tersebut ditutup total, dikhawatirkan akan memicu persoalan sosial dengan masyarakat sekitar yang bergantung pada aktivitas wisata.

”Dulu sempat digembok agar tidak dilewati, tetapi justru dibobol masyarakat,” ungkap Slaman.

Kabid Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Pamekasan Moh. Zahri menyatakan, hingga kini belum ada kepastian anggaran untuk perbaikan pemeliharaan ekowisata mangrove tersebut. Pihaknya masih menunggu perubahan Perbup APBD.

”Masih ada pemangkasan anggaran, jadi belum bisa memastikan (anggaran perawatan wisata, Red),” kata Zahri pada Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Awal tahun lalu, Ekowisata Mangrove Lembung sebenarnya sudah ditutup untuk umum. Penutupan itu dilakukan karena kondisi fasilitas yang rusak dan dinilai membahayakan. (afg/jup)

Editor : Hera Marylia Damayanti
Ekowisata Mangrove Lembung jembatan kayu lapuk terperosok pengunjung